Julien Offray de La Mettrie

Dokter asal Perancis

Biografi Julien Offray de La Mettrie: Filsuf Materialisme Radikal
Biografi Julien Offray de La Mettrie: Filsuf Materialisme Radikal

Julien Offray de La Mettrie (23 November 1709 – 11 November 1751) adalah seorang dokter dan filsuf terkemuka asal Perancis yang menjadi salah satu tokoh awal materialisme di era Pencerahan. Ia paling dikenal melalui karyanya yang monumental tahun 1747, L'homme machine (Manusia Mesin). Pemikiran La Mettrie sangat kontroversial pada zamannya karena ia berpendapat bahwa manusia hanyalah hewan yang kompleks dan tidak memiliki jiwa, sebuah posisi yang menantang dogma agama dan filsafat dualisme tradisional.

Latar Belakang dan Pendidikan

Lahir di Saint-Malo, Brittany, Julien adalah putra dari seorang pedagang tekstil yang makmur. Pendidikan awalnya ditempuh di perguruan tinggi Coutances dan Caen sebelum melanjutkan ke Collège du Plessis di Paris. Menariknya, La Mettrie awalnya sempat tertarik untuk menjadi pendeta dan mempelajari teologi di sekolah-sekolah Jansenis. Namun, minatnya kemudian bergeser dari urusan gerejawi ke ilmu pengetahuan alam.

Pada tahun 1725, ia masuk ke College d'Harcourt untuk mempelajari filsafat dan ilmu alam. Di sana, ia mulai terpapar pada ajaran Cartesianisme yang sedang berkembang. Langkah krusial dalam karier medisnya terjadi pada tahun 1733 saat ia pergi ke Leiden untuk belajar di bawah bimbingan Hermann Boerhaave, seorang dokter ternama. Pengaruh Boerhaave sangat besar dalam membentuk visi La Mettrie untuk mereformasi pendidikan medis di Perancis.

Karier Medis dan Pengalaman Perang

Setelah menyelesaikan studinya, La Mettrie sempat berpraktik medis di kampung halamannya, Saint-Malo, sambil menyebarkan teori-teori Boerhaave melalui terjemahan dan publikasi. Pada tahun 1742, ia pindah ke Paris dan diangkat sebagai ahli bedah untuk resimen Gardes Françaises. Selama Perang Suksesi Austria, ia menyaksikan langsung kengerian pertempuran, yang kemudian menumbuhkan rasa kebencian mendalam terhadap kekerasan dalam tulisan-tulisan filsafatnya.

Sebuah titik balik penting terjadi ketika La Mettrie terserang demam tinggi saat bertugas. Ia mengamati dirinya sendiri dan menyadari bagaimana percepatan sirkulasi darah memengaruhi proses berpikirnya. Hal ini membawanya pada kesimpulan bahwa proses mental hanyalah efek dari perubahan organik dalam otak dan sistem saraf. Teori ini kemudian ia tuangkan dalam karya pertamanya, Histoire naturelle de l'âme (1745). Publikasi ini memicu kemarahan publik yang luar biasa, memaksanya untuk melepaskan jabatannya dan melarikan diri ke Leiden.

Baca Juga:

Filosofi Manusia Mesin dan Materialisme

Di pengasingannya di Leiden, La Mettrie menulis L'Homme machine, sebuah risalah yang disusun dengan prinsip-prinsip materialistis dan kuasi-ateistik yang berani. Ia berpendapat bahwa pikiran adalah bagian integral dari tubuh dan manusia bekerja seperti mesin yang sangat rumit. Ia menolak dualisme pikiran-tubuh milik Descartes dan justru mengeklaim bahwa Descartes sebenarnya adalah seorang materialis yang menyembunyikan pandangannya.

La Mettrie juga menghapus batas tajam antara manusia dan hewan. Baginya, keduanya terdiri dari materi yang terorganisir, dan perbedaan di antara keduanya hanyalah pada tingkat kompleksitas organisasi materi tersebut. Ia mengibaratkan manusia sebagai jam dinding berkualitas tinggi, sementara hewan sebagai jam tangan biasa. Ia bahkan berspekulasi bahwa jika seekor kera dilatih dengan benar, ia bisa menjadi "manusia yang sempurna".

Etika Hedonisme dan Perlindungan di Prusia

Selain pandangan mekanistiknya, La Mettrie juga dikenal karena prinsip hedonismenya. Dalam Discours sur le bonheur, yang ia anggap sebagai mahakaryanya, ia berpendapat bahwa tujuan hidup adalah mencari kesenangan dan menghindari rasa bersalah yang menurutnya hanyalah hasil dari pendidikan sosial (enkulturasi). Pandangan ini membuatnya dimusuhi oleh hampir semua pemikir Pencerahan lainnya, termasuk Voltaire dan Diderot.

Karena terus-menerus dikejar di Belanda, ia akhirnya menetap di Berlin pada tahun 1748 atas undangan Raja Frederick yang Agung dari Prusia. Di sana, ia diangkat sebagai pembaca istana dan dokter pribadi raja. Meskipun raja menyukai kepribadiannya, ia menganggap tulisan-tulisan La Mettrie kurang berkualitas secara literasi.

Kematian yang Ironis dan Warisan

Kematian La Mettrie pada 11 November 1751 sering dianggap sebagai ironi dari prinsip hedonismenya. Ia meninggal setelah memakan pâté de faisan aux truffes (pâté burung pegar dengan jamur truffle) dalam jumlah besar di sebuah perjamuan. Ia menderita penyakit lambung dan demam parah sebelum akhirnya mengembuskan napas terakhir pada usia 41 tahun.

Meskipun pada zamannya ia banyak dihujat, pengaruh La Mettrie tetap bertahan. Pemikirannya menjadi fondasi bagi perkembangan psikologi perilaku (behaviorisme) dan pendekatan reduksionis dalam ilmu saraf. Di era modern, teori-teori kognitif dan pengembangan kecerdasan buatan (AI) sering kali dianggap sejalan dengan analogi robot-manusia yang pernah ia ajukan ratusan tahun lalu.

Pertanyaan Umum (FAQ)

Apa gagasan utama dalam buku L'homme machine?

Gagasan utamanya adalah bahwa manusia tidak memiliki jiwa yang terpisah dari tubuh. Manusia dianggap sebagai organisme yang bekerja seperti mesin kompleks di mana proses mental sepenuhnya bergantung pada tindakan fisik dan organisasi materi dalam otak.

Mengapa La Mettrie dianggap sebagai tokoh kontroversial?

Ia dianggap kontroversial karena terang-terangan menolak eksistensi Tuhan, meniadakan konsep jiwa, dan mempromosikan hedonisme ekstrem yang menempatkan pengejaran kesenangan indrawi di atas segalanya.

Bagaimana hubungan antara La Mettrie dengan Raja Frederick yang Agung?

Raja Frederick memberikan perlindungan kepada La Mettrie di Berlin setelah ia diusir dari Perancis dan Belanda. Raja mengangkatnya sebagai pembaca istana dan bahkan membacakan pidato pemakamannya saat ia meninggal.

Sumber referensi: Wikipedia