Muhammad Saeed Al-Hakim
Marja Syiah Dua Belas Imam asal Irak (1936–2021)
Muhammad Saeed Al-Hakim (1 Februari 1936 – 3 September 2021) merupakan seorang marja senior Syiah Itna Asyariyah asal Irak dan salah satu otoritas keagamaan tertinggi di kota suci Najaf. Selama masa hidupnya, beliau dikenal sebagai salah satu ulama paling berpengaruh yang menjadi kandidat kuat untuk memimpin otoritas keagamaan agung (marja'iyyah) di Najaf setelah Ayatollah Ali al-Sistani.
Latar Belakang Keluarga dan Pendidikan
Lahir di Najaf pada 1 Februari 1936, Muhammad Saeed Al-Hakim tumbuh dalam lingkungan keluarga ulama yang sangat terpandang. Ayahnya adalah Sayyid Muhammad-Ali al-Hakeem, sementara ibunya merupakan putri dari Grand Ayatollah Muhsin al-Hakim. Hubungan kekeluargaan ini menempatkannya di pusat tradisi keilmuan Islam sejak usia dini.
Pendidikan agamanya dimulai saat ia baru menginjak usia lima tahun. Di bawah bimbingan ayahnya, ia mempelajari subjek-subjek dasar seperti tata bahasa Arab, logika, retorika, hingga dasar-dasar jurisprudensi (fikih). Al-Hakim kemudian melanjutkan studi lanjut kepada kakeknya, Muhsin al-Hakim, serta menimba ilmu dari para ulama terkemuka lainnya seperti Shaykh Hussein Al-Hilli dan Sayyid Abu al-Qasim al-Khoei. Dedikasinya pada studi tingkat tinggi ini menjadikannya salah satu sarjana yang dihormati di Hawza (seminari) Najaf.
Masa Kelam di Bawah Rezim Ba'ath
Perjalanan hidup Al-Hakim tidak terlepas dari tekanan politik yang melanda Irak. Pada tahun 1983, rezim Ba'ath yang dipimpin oleh Saddam Hussein melakukan tindakan represif terhadap keluarga besar Al-Hakim. Muhammad Saeed Al-Hakim bersama banyak anggota keluarganya dipenjarakan oleh pemerintah. Beliau mendekam di balik jeruji besi selama delapan tahun sebelum akhirnya dibebaskan pada tahun 1991.
Tekanan terhadap dirinya terus berlanjut bahkan setelah jatuhnya rezim lama. Pada tahun 2003, beliau menjadi target upaya pembunuhan ketika rumahnya di Najaf dibom. Meskipun ledakan tersebut menewaskan tiga orang dan menyebabkan kerusakan parah, Al-Hakim berhasil selamat dengan luka ringan. Serangan ini sempat dikaitkan dengan kelompok ekstremis Jama'at al-Tawhid wal-Jihad, meskipun spekulasi mengenai keterlibatan kelompok lain juga sempat bermunculan dalam suasana politik Irak yang tidak stabil saat itu.
Baca Juga:
Otoritas Keagamaan dan Kontribusi Keilmuan
Setelah mencapai tingkat keilmuan yang matang, Muhammad Saeed Al-Hakim mendedikasikan waktunya untuk mengajar di seminari-seminari Najaf. Beliau dikenal sebagai guru yang luar biasa dan telah mendidik banyak anggota keluarganya sendiri serta sejumlah ulama ternama lainnya seperti Shaykh Hadi al-Radhi dan Shaykh Baqir al-Irawani.
Beliau merupakan seorang penulis produktif yang menghasilkan berbagai karya dalam bidang hukum Islam dan akidah. Beberapa karya pentingnya meliputi:
- Almohkem: Kursus terperinci mengenai fundamental jurisprudensi yang terdiri dari enam volume.
- Misbahul minhag: Penjelasan mendalam mengenai hukum jurisprudensi yang telah mencapai 15 volume.
- Minhag al saliheen: Kitab praktis (Risala) yang merangkum fatwa-fatwanya dalam tiga volume.
- Karya Modern: Beliau juga menulis tentang topik kontemporer seperti hukum agama terkait komputer, internet, dan kloning manusia yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris.
Selain fokus pada keilmuan teknis, Al-Hakim juga aktif dalam dialog lintas agama dan mazhab. Beliau merupakan salah satu penandatangan Risalah Amman (Amman Message), sebuah deklarasi internasional yang bertujuan untuk mendefinisikan ortodoksi Muslim dan mendorong toleransi di dunia Islam.
Kehidupan Pribadi dan Akhir Hayat
Muhammad Saeed Al-Hakim memiliki kehidupan pribadi yang sederhana namun tetap terhubung dengan dinamika sosial-politik Irak. Beliau dikaruniai lima putra yang semuanya mengikuti jejaknya menjadi ulama. Putra tertuanya, Riyadh, dikenal sebagai pengajar terkemuka di seminari Qom. Selain itu, beliau juga berkerabat dengan politisi Irak, Ammar al-Hakim.
Pada 3 September 2021, Muhammad Saeed Al-Hakim meninggal dunia di usia 85 tahun akibat serangan jantung. Kepergiannya merupakan kehilangan besar bagi dunia Islam, khususnya bagi komunitas Syiah di Irak. Upacara pemakamannya dipimpin oleh saudaranya sendiri, Muhammad-Taqi, di makam suci Imam Ali, Najaf, yang dihadiri oleh ribuan pelayat sebagai penghormatan atas dedikasi seumur hidupnya terhadap ilmu dan umat.
Pertanyaan Umum (FAQ)
Siapakah Muhammad Saeed Al-Hakim?
Beliau adalah seorang Grand Ayatollah dan marja senior Syiah asal Irak yang menjadi salah satu otoritas keagamaan tertinggi di Najaf.
Apa saja karya tulis penting dari Al-Hakim?
Beberapa karyanya yang paling terkenal adalah Almohkem (tentang dasar fikih) dan Misbahul minhag, serta panduan praktis Minhag al saliheen.
Apakah beliau pernah mengalami penganiayaan politik?
Ya, beliau pernah dipenjara selama delapan tahun (1983-1991) oleh rezim Ba'ath di bawah kepemimpinan Saddam Hussein.
Sumber referensi: Wikipedia