Simon Awad
Patriark Gereja Maronit

Simon Awad (1683 – 12 Februari 1756), yang juga dikenal sebagai Sim'an Awwad atau Simeon Evodius, adalah Patriark Maronit Antiokhia ke-61 yang menjabat dari tahun 1743 hingga wafatnya pada 1756. Ia merupakan sosok sentral dalam sejarah Gereja Maronit, yang tidak hanya dikenal karena kepemimpinan administratifnya, tetapi juga karena kontribusinya yang signifikan dalam bidang literatur teologi dan sejarah gereja di Lebanon.
Latar Belakang dan Pendidikan
Lahir pada tahun 1683 di Hasroun, Lebanon, Simon Awad berasal dari keluarga yang memiliki hubungan erat dengan struktur gereja. Pada masa mudanya, ia dikirim ke Roma untuk menempuh pendidikan di College of the Maronites dari tahun 1696 hingga 1707. Pendidikan di pusat Katolik dunia ini membentuk pemikiran teologisnya dan memberinya wawasan mendalam mengenai tata kelola gereja universal.
Sekembalinya ke Lebanon, ia ditahbiskan menjadi imam pada 10 Juni 1708 oleh pamannya, Patriark Jacob Awad. Simon kemudian mengabdi sebagai sekretaris bagi pamannya tersebut. Kecakapannya dalam urusan gerejawi membuatnya dipercaya untuk memegang jabatan yang lebih tinggi, hingga pada 27 Januari 1716, ia dikonsekrasi sebagai Uskup Agung Damaskus.
Krisis Suksesi dan Intervensi Kepausan
Perjalanan Simon Awad menuju takhta patriarkat dipenuhi dengan dinamika yang kompleks. Setelah wafatnya Patriark Joseph Khazen pada Mei 1742, Simon sebenarnya telah terpilih oleh para uskup dalam pertemuan pertama. Namun, karena kerendahhatiannya, ia menolak posisi tersebut. Penolakan ini memicu krisis suksesi yang memecah para uskup menjadi dua faksi: satu pihak mendukung Elias Mohasseb, sementara pihak lain mendukung Tobias El Khazen.
Perpecahan ini mengancam kesatuan Gereja Maronit hingga akhirnya Paus Benediktus XIV turun tangan. Setelah melalui penyelidikan komisi kardinal, Paus mengambil keputusan luar biasa dengan membatalkan pemilihan kandidat yang bersengketa. Melalui surat apostolik Nuper nos pada 16 Maret 1743, Paus secara langsung menunjuk Simon Awad sebagai Patriark Maronit yang baru demi menjaga perdamaian dan persatuan gereja. Simon akhirnya menerima tugas tersebut dan secara resmi dinobatkan pada 11 Oktober 1743.
Baca Juga:
Kepemimpinan dan Reformasi
Selama masa kepemimpinannya, Simon Awad berupaya mengimplementasikan keputusan-keputusan dari Sinode Lebanon 1736 yang bertujuan untuk mengorganisir Gereja Maronit ke dalam keuskupan-keuskupan yang lebih teratur. Ia memanggil sinode baru pada November 1755 di Biara Qannubin untuk menegakkan disiplin gerejawi dan pembagian wilayah administratif keuskupan.
Secara pribadi, Simon memilih untuk tidak menetap di kediaman tradisional Patriark di Biara Qannubin. Sebaliknya, ia tinggal secara permanen di desa El-Midane, Distrik Jezzine, dekat Biara Bunda Maria dari Machmoucheh yang ia bantu pembangunannya pada tahun 1730. Keputusannya ini menunjukkan kedekatannya dengan komunitas lokal di wilayah tersebut.
Kontroversi Hindiyya al-'Ujaimi
Salah satu tantangan besar selama masa jabatannya adalah kasus Hindiyya al-'Ujaimi, seorang biarawati mistikus yang mengklaim mendapatkan penglihatan ilahi. Awalnya, Simon mendukung Hindiyya setelah melakukan penyelidikan internal. Namun, laporan mengenai kejanggalan dalam ajaran Hindiyya mencapai Roma.
Paus Benediktus XIV kemudian mengeluarkan dekrit yang tidak menyetujui sikap Patriark yang mendukung Hindiyya. Pada akhirnya, kongregasi keagamaan yang didirikan Hindiyya dibubarkan, dan penglihatan-penglihatannya dinyatakan sebagai sebuah kekeliruan atau ilusi oleh pihak Vatikan pada tahun 1755. Meskipun demikian, Simon Awad tetap menjalankan tugas kepemimpinannya dengan fokus pada stabilitas gereja.
Karya Tulis dan Warisan
Simon Awad juga diakui sebagai seorang penulis produktif dalam bahasa Arab. Karya-karyanya mencakup berbagai disiplin ilmu mulai dari teologi hingga sejarah. Beberapa karyanya yang paling terkenal meliputi:
- Kumpulan Teologi (1706).
- Manual Teologi Moral (1707).
- Komentar Alkitab untuk Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru.
- Biografi pertama dari Patriark Estephan El Douaihy.
- Sejarah para Patriark dari Timur yang ditulis bersama Giuseppe Simone Assemani.
Simon Awad wafat pada 12 Februari 1756 di El-Midane dan dimakamkan di Biara Bunda Maria dari Machmoucheh yang ia dirikan. Ia dikenang sebagai pemimpin yang teguh, cendekiawan yang berdedikasi, dan penjaga tradisi Gereja Maronit di masa-masa sulit.
Pertanyaan Umum (FAQ)
Apa peran penting Simon Awad dalam Gereja Maronit?
Simon Awad adalah Patriark Maronit ke-61 yang ditunjuk langsung oleh Paus Benediktus XIV untuk mendamaikan perpecahan di gereja tersebut. Ia juga berperan aktif dalam mengimplementasikan reformasi administratif gereja.
Karya tulis apa yang paling menonjol dari Simon Awad?
Ia menulis berbagai karya teologi moral, komentar Alkitab, serta biografi penting tentang Patriark Estephan El Douaihy.
Di mana Simon Awad dimakamkan?
Ia dimakamkan di Biara Bunda Maria dari Machmoucheh di El-Midane, Lebanon, sebuah biara yang ia bantu bangun dan menjadi tempat tinggal utamanya selama menjabat sebagai Patriark.
Sumber referensi: Wikipedia