Abdul Muis

Sastrawan dan Pahlawan Nasional Indonesia

Biografi Abdul Muis: Perjuangan Pena Sastrawan dan Pahlawan Nasional Pertama
Biografi Abdul Muis: Perjuangan Pena Sastrawan dan Pahlawan Nasional Pertama

Abdul Muis (3 Juli 1883 – 17 Juni 1959) adalah seorang jurnalis, sastrawan, dan aktivis politik terkemuka yang menjadi tokoh pertama yang dianugerahi gelar Pahlawan Nasional oleh Presiden Soekarno. Dikenal karena keberaniannya menentang kolonialisme melalui tulisan yang tajam, ia meninggalkan warisan besar bagi kesusastraan Indonesia melalui novel klasiknya, Salah Asuhan. Muis bukan sekadar penulis, melainkan pejuang yang menggunakan pena sebagai senjata untuk menuntut keadilan bagi rakyat Indonesia di bawah penjajahan Belanda.

Latar Belakang dan Pendidikan

Lahir di Sungai Puar, Minangkabau, Abdul Muis merupakan putra dari Soelaiman Dt Toemanggoeng dan Siti Djariah. Sejak muda, ia telah menunjukkan kecerdasan yang menonjol. Setelah menyelesaikan pendidikan dasarnya di Europeesche Lagere School (ELS), ia melanjutkan studinya ke Stovia, sekolah kedokteran bergengsi di Jakarta yang kini menjadi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Namun, perjalanan akademisnya di dunia medis tidak berlanjut hingga lulus karena kondisi kesehatan yang memaksanya berhenti di tengah jalan.

Karier Awal dan Dunia Jurnalistik

Meskipun gagal menjadi dokter, Muis memulai kariernya di dunia birokrasi sebagai klerk di Departemen Onderwijs en Eredienst (Departemen Pendidikan dan Ibadah). Posisi ini ia dapatkan berkat bantuan dari Mr. Abendanon, yang saat itu menjabat sebagai Direktur Pendidikan. Namun, keberadaannya di departemen tersebut tidak disambut baik oleh rekan kerja berkebangsaan Belanda yang menunjukkan sikap diskriminatif. Setelah bekerja selama dua setengah tahun, Muis memutuskan untuk keluar dan beralih ke dunia pers.

Dunia jurnalistik menjadi panggung utama bagi Muis untuk menyuarakan pemikirannya. Pada tahun 1905, ia bergabung dengan majalah Bintang Hindia di Bandung. Setelah majalah tersebut dilarang terbit pada 1907, ia sempat bekerja sebagai menteri lumbung di Bandungsche Afdeelingsbank selama lima tahun. Namun, gairah menulisnya tidak pernah padam. Pada 1912, ia bekerja di surat kabar Belanda Preanger Bode sebagai korektor. Berkat penguasaan bahasa Belanda yang sangat baik, hanya dalam waktu tiga bulan ia dipromosikan menjadi hoofdcorector atau korektor kepala.

Baca Juga:

Pergerakan Politik dan Penentangan Kolonial

Pada tahun 1913, Abdul Muis bergabung dengan Sarekat Islam (SI) dan dipercaya menjadi Pemimpin Redaksi Harian Kaoem Moeda. Di harian inilah ia memperkenalkan rubrik "Pojok" yang ikonik. Sebagai redaktur, ia memiliki kebebasan untuk menyuarakan aspirasi kemerdekaan. Bersama Ki Hadjar Dewantara, ia membentuk Komite Bumiputera untuk menentang rencana pemerintah Belanda yang ingin merayakan seratus tahun kemerdekaan mereka dari Prancis di tanah jajahan.

Kiprahnya semakin meluas saat ia diutus ke Belanda pada 1917 untuk melakukan propaganda bagi Komite Indie Weerbaar. Dalam kunjungan tersebut, ia juga melobi tokoh-tokoh Belanda agar mendirikan sekolah teknik tinggi di Indonesia, yang kemudian terwujud sebagai Technische Hooge School (sekarang Institut Teknologi Bandung atau ITB). Setahun kemudian, ia ditunjuk menjadi anggota Volksraad (Dewan Rakyat) mewakili Central Sarekat Islam.

Masa Pengasingan dan Kelahiran Salah Asuhan

Aktivitas politik Muis seringkali membuatnya berurusan dengan hukum kolonial. Pada 1919, ia dituduh menghasut rakyat di Toli-Toli, Sulawesi Utara, yang berujung pada pembunuhan seorang pengawas Belanda. Akibatnya, ia dijebloskan ke penjara. Perjuangannya tidak berhenti; ia memimpin pemogokan buruh di Yogyakarta pada 1921 dan menentang pajak yang memberatkan di Sumatera Barat pada 1923.

Aksi-aksinya yang vokal membuat pemerintah Belanda memberlakukan passentelsel, melarangnya tinggal di tempat kelahirannya dan memaksanya menetap di Pulau Jawa. Ia akhirnya diasingkan ke Garut, Jawa Barat. Di masa pengasingan inilah, Muis menuangkan pemikirannya ke dalam bentuk sastra. Pada tahun 1928, ia menerbitkan novel Salah Asuhan, sebuah mahakarya yang menyoroti konflik identitas dan benturan budaya Barat dengan Timur. Novel ini kemudian menjadi salah satu pilar sastra modern Indonesia.

Kehidupan Pribadi dan Masa Tua

Kehidupan pribadi Abdul Muis diwarnai oleh beberapa pernikahan. Istri pertamanya, seorang gadis Minangkabau pilihan orang tua, meninggal dunia tak lama setelah mereka menikah. Ia kemudian menikah dengan seorang gadis asal Priangan namun berakhir dengan perceraian. Pada tahun 1925, ia menikahi Soenarsih yang memberinya 12 orang anak, termasuk Sulaiman, Diana, Kencana, dan Achir Moeis. Anak tertuanya, Sulaiman, meninggal dunia hanya dalam usia enam hari akibat tetanus saat mereka berada di pengasingan.

Selama di Garut, ia sempat menjabat sebagai anggota Regentschapsraad hingga masa pendudukan Jepang. Setelah proklamasi kemerdekaan, meski usianya sudah senja, ia tetap aktif dalam Majelis Persatuan Perjuangan Priangan dan berfokus pada pembangunan masyarakat di Jawa Barat. Abdul Muis wafat pada 17 Juni 1959 di Bandung dan dimakamkan dengan penghormatan tinggi di Taman Makam Pahlawan Cikutra.

Daftar Karya Penting

  • Salah Asuhan (Novel, 1928)
  • Pertemuan Jodoh (Novel, 1933)
  • Surapati (Novel, 1950)
  • Robert Anak Surapati (Novel, 1953)
  • Don Kisot (Terjemahan karya Miguel de Cervantes, 1923)
  • Tom Sawyer Anak Amerika (Terjemahan karya Mark Twain, 1928)
  • Sebatang Kara (Terjemahan karya Hector Malot, 1922)

Pertanyaan Umum (FAQ)

Mengapa Abdul Muis disebut sebagai Pahlawan Nasional pertama?

Abdul Muis adalah tokoh pertama yang secara resmi dikukuhkan sebagai Pahlawan Nasional Indonesia melalui Keputusan Presiden No. 218 Tahun 1959 yang dikeluarkan oleh Presiden Soekarno.

Apa inti cerita dari novel Salah Asuhan?

Novel ini menceritakan tentang Hanafi, seorang pemuda yang terobsesi dengan budaya Barat hingga melupakan akar budayanya sendiri, yang akhirnya membawa konflik batin dan kegagalan dalam kehidupan pribadinya.

Di mana Abdul Muis dimakamkan?

Abdul Muis dimakamkan di Taman Makam Pahlawan (TMP) Cikutra, Bandung, Jawa Barat.

Sumber referensi: Wikipedia