Ali Sadikin
Gubernur DKI Jakarta ke-7 (1966-1977)

Ali Sadikin (7 Juli 1926 – 20 Mei 2008) adalah seorang tokoh militer dan politikus Indonesia yang paling dikenal melalui perannya sebagai Gubernur DKI Jakarta ke-7. Pria yang akrab disapa "Bang Ali" ini merupakan arsitek utama di balik transformasi Jakarta dari sebuah kota yang tertinggal menjadi kota metropolitan yang modern. Keberaniannya dalam mengambil keputusan sulit dan visi pembangunannya yang melampaui zaman menjadikannya salah satu sosok paling ikonik dalam sejarah kepemimpinan ibu kota.
Latar Belakang dan Pendidikan
Lahir di Sumedang, Jawa Barat, Ali Sadikin mengawali perjalanan kariernya melalui jalur pendidikan maritim. Ia menempuh pendidikan di Pendidikan Perwira Pelayaran Besar (P3B) yang saat ini dikenal sebagai Politeknik Ilmu Pelayaran Semarang. Pendidikan ini menjadi dasar pengabdiannya di dunia militer, khususnya di Angkatan Laut.
Selain pendidikan di dalam negeri, Ali Sadikin juga sempat memperdalam ilmu militernya di US Marine Corps School, Amerika Serikat. Latar belakang militer yang disiplin dan tegas ini kelak sangat memengaruhi gaya kepemimpinannya saat dipercaya memimpin Jakarta di tengah masa transisi politik Indonesia yang cukup krusial.
Karier Militer dan Jabatan Menteri
Sebelum menduduki kursi gubernur, Ali Sadikin telah memiliki rekam jejak yang cemerlang di Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut (TNI AL), khususnya di Korps Komando (KKO). Beberapa jabatan strategis yang pernah ia emban antara lain:
- Wakil Panglima KKO AL (1950–1953)
- Danpusdiklat KKO AL (1954–1959)
- Deputi II Panglima Angkatan Laut (1959–1963)
Kepercayaan terhadap kapabilitasnya membuat Presiden Soekarno menarik Ali ke pemerintahan sipil. Ia menjabat sebagai Menteri Perhubungan Laut pada Kabinet Kerja IV (1963–1964). Perannya kemudian meluas saat ia ditunjuk sebagai Menteri Koordinator Kompartemen Maritim di bawah Kabinet Dwikora hingga tahun 1966.
Menjadi Gubernur DKI Jakarta
Pada 28 April 1966, Ali Sadikin dilantik secara langsung oleh Presiden Soekarno di Istana Negara sebagai Gubernur DKI Jakarta berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 82 Tahun 1966. Saat itu, ia diduetkan dengan Laksamana Muda Udara Raden H. Atje Wiriadinata sebagai wakil gubernur.
Di bawah kepemimpinan Bang Ali, Jakarta mengalami perombakan besar-besaran. Ia memprakarsai pembangunan berbagai proyek ikonik yang masih bisa dinikmati hingga saat ini, seperti Taman Ismail Marzuki (TIM), Kebun Binatang Ragunan, Proyek Senen, dan Taman Impian Jaya Ancol. Ia juga mengembangkan kawasan Pluit di Jakarta Utara sebagai kota satelit serta mendirikan Institut Kesenian Jakarta (IKJ).
Baca Juga:
Revitalisasi Budaya dan Inovasi Sosial
Bang Ali tidak hanya fokus pada pembangunan fisik, tetapi juga pada identitas budaya. Ia menghidupkan kembali berbagai tradisi Betawi yang sempat meredup, seperti ondel-ondel, kerak telor, dan lenong. Ia pula yang mencetuskan pemilihan Abang None Jakarta serta menetapkan perayaan rutin hari jadi kota Jakarta setiap tanggal 22 Juni dengan pesta rakyat.
Inovasi lainnya termasuk penyelenggaraan Pekan Raya Jakarta (sekarang Jakarta Fair) sebagai ajang promosi dagang nasional. Di bidang transportasi, ia menata trayek bus kota dan membangun halte-halte yang nyaman. Kepeduliannya pada dunia pariwisata dan kecantikan juga terlihat saat ia menjabat sebagai Pembina Yayasan Puteri Indonesia periode 1971–1977, di mana delegasi Indonesia berhasil meraih beberapa prestasi internasional di tingkat Asia-Pasifik.
Kebijakan Kontroversial dan Masa Pensiun
Kepemimpinan Ali Sadikin tidak lepas dari kritik tajam akibat beberapa kebijakannya yang kontroversial. Demi mendapatkan dana pembangunan kota yang saat itu sangat terbatas, ia melegalkan perjudian untuk memungut pajaknya. Ia juga mengembangkan hiburan malam serta menetapkan kompleks Kramat Tunggak sebagai lokasi lokalisasi prostitusi yang terkontrol.
Setelah masa jabatannya berakhir pada 1977, Ali Sadikin tetap vokal dalam menyuarakan pendapatnya terhadap kondisi negara. Ia bergabung dengan kelompok Petisi 50, sebuah perkumpulan tokoh militer dan sipil yang bersikap kritis terhadap kepemimpinan Presiden Soeharto. Sikap ini membuatnya sempat mengalami tekanan politik dari pemerintah Orde Baru.
Wafat dan Warisan
Ali Sadikin mengembuskan napas terakhirnya di Singapura pada 20 Mei 2008. Ia meninggalkan lima orang putra. Sepanjang hidupnya, ia dikenal sebagai pemimpin yang jujur, berani, dan berorientasi pada hasil nyata.
Sebagai bentuk penghormatan atas jasa-jasanya yang besar bagi negara, ia dipromosikan dari Letnan Jenderal menjadi Jenderal Kehormatan oleh Presiden Prabowo Subianto pada 10 Agustus 2025. Hingga kini, nama Bang Ali tetap harum sebagai standar emas kepemimpinan kepala daerah yang mampu mengubah wajah sebuah kota secara fundamental.
Pertanyaan Umum (FAQ)
Apa jasa terbesar Ali Sadikin untuk Jakarta?
Ali Sadikin berjasa mengubah Jakarta menjadi kota metropolitan modern melalui pembangunan infrastruktur seperti Taman Ismail Marzuki, Ancol, Ragunan, serta melakukan revitalisasi budaya Betawi.
Mengapa kebijakan perjudian Ali Sadikin dianggap kontroversial?
Ia melegalkan perjudian di Jakarta agar pemerintah bisa memungut pajak dari kegiatan tersebut. Pajak inilah yang kemudian digunakan untuk mendanai berbagai proyek pembangunan sarana publik dan sekolah di Jakarta.
Apa itu Petisi 50 yang diikuti Ali Sadikin?
Petisi 50 adalah kelompok yang terdiri dari tokoh-tokoh militer dan sipil yang melayangkan kritik terbuka terhadap penggunaan kekuasaan Presiden Soeharto yang dianggap melenceng dari Pancasila dan UUD 1945.
Sumber referensi: Wikipedia