Arief Budiman

Aktivis dan Sosiolog Indonesia (1941–2020)

Biografi Arief Budiman: Intelektual Kritis dan Pelopor Gerakan Golput
Biografi Arief Budiman: Intelektual Kritis dan Pelopor Gerakan Golput

Arief Budiman (3 Januari 1941 – 23 April 2020) adalah seorang intelektual publik, aktivis terkemuka Angkatan '66, dan sosiolog berpengaruh asal Indonesia. Terlahir dengan nama Soe Hok Djin, ia dikenal karena keberaniannya dalam mengkritik kekuasaan, baik melalui tulisan maupun aksi demonstrasi. Bersama adiknya, aktivis legendaris Soe Hok Gie, Arief menjadi salah satu motor penggerak gerakan mahasiswa di Universitas Indonesia yang turut andil dalam perubahan peta politik nasional pada pertengahan 1960-an.

Latar Belakang dan Pendidikan

Lahir dari keluarga Tionghoa, Arief adalah putra dari seorang wartawan bernama Soe Lie Piet. Perjalanan akademisnya sangat luas dan mencakup berbagai disiplin ilmu di berbagai negara. Ia menamatkan studi di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia pada tahun 1968. Namun, sebelum lulus dari UI, ia sempat memperdalam ilmu pendidikan di College d'Europe, Brugge, Belgia, pada tahun 1964.

Haus akan ilmu pengetahuan, Arief melanjutkan pendidikan ke Paris pada tahun 1972. Puncak pencapaian akademisnya diraih saat ia memperoleh gelar Ph.D. dalam bidang sosiologi dari Universitas Harvard, Amerika Serikat, pada tahun 1980. Disertasinya yang membahas pengalaman Chile di bawah kepemimpinan Allende kemudian diterbitkan menjadi buku berjudul Jalan Demokrasi ke Sosialisme.

Aktivisme dan Kiprah Politik

Keterlibatan politik Arief dimulai sejak masa mahasiswa. Pada tahun 1963, ia menjadi salah satu penandatangan Manifesto Kebudayaan (Manikebu), sebuah pernyataan sikap yang menentang dominasi Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) yang dianggap memasung kebebasan kreatif seniman. Meskipun ia termasuk tokoh yang membidani lahirnya Orde Baru, Arief tidak lantas menjadi pendukung setia rezim tersebut.

Ia justru menjadi kritikus vokal terhadap pemerintahan Soeharto yang dinilainya mulai memberangus oposisi dan mempraktikkan korupsi. Pada tahun 1972, ia sempat ditahan karena terlibat dalam demonstrasi menentang pembangunan Taman Miniatur Indonesia Indah (TMII). Salah satu warisan politiknya yang paling dikenal adalah pencetusan istilah Golput (Golongan Putih) pada pemilu 1973. Gerakan ini muncul sebagai bentuk protes terhadap sistem pemilu dan dominasi Golkar yang dianggap telah menyimpang dari cita-cita awal demokrasi Orde Baru.

Baca Juga:

Karier Akademis dan Kontribusi Budaya

Sepulangnya dari Harvard, Arief mengabdikan diri sebagai dosen di Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW), Salatiga, dari tahun 1985 hingga 1995. Namun, masa pengabdiannya di sana berakhir dengan kemelut internal terkait pemilihan rektor yang dianggap tidak adil. Setelah melakukan aksi mogok mengajar dan akhirnya dipecat, Arief memutuskan untuk pindah ke Australia dan menerima jabatan sebagai profesor (Guru Besar) di Universitas Melbourne.

Di bidang kebudayaan, kontribusi Arief sangat beragam. Ia pernah menjabat sebagai redaktur majalah Horison (1966–1972) dan menjadi anggota Dewan Kesenian Jakarta (1968–1971). Dalam dunia sastra, ia memicu perdebatan penting melalui pengenalan Metode Ganzheit pada tahun 1968 dan gagasan mengenai Sastra Kontekstual pada tahun 1984, yang menekankan pentingnya keterkaitan karya sastra dengan realitas sosial masyarakat.

Kehidupan Pribadi dan Akhir Hayat

Arief Budiman menikah dengan Leila Chairani Budiman, rekan kuliahnya di Fakultas Psikologi UI yang juga dikenal publik sebagai pengasuh rubrik psikologi di harian Kompas. Perjuangan mereka untuk menikah sempat menemui tantangan dari orang tua Leila, hingga akhirnya mereka diizinkan menikah dengan syarat Arief memeluk agama Islam dan keduanya harus menyelesaikan pendidikan sarjana mereka.

Hingga akhir hayatnya, Arief tetap dikenal sebagai sosok yang memegang teguh prinsip keadilan sosial. Hal ini tercermin saat ia menerima Bakrie Award pada tahun 2006. Dalam pidato penerimaannya, ia secara mengejutkan menyebut penghargaan tersebut sebagai "penghinaan" karena ia merasa sebagai orang kiri yang mendapatkan apresiasi dari pihak yang ia anggap mewakili paradigma pembangunanisme yang ia kritik selama hidupnya.

Daftar Karya Penting

  • Chairil Anwar: Sebuah Pertemuan (1976)
  • Perdebatan Sastra Kontekstual (1985)
  • Transmigrasi di Indonesia (1985)
  • Jalan Demokrasi ke Sosialisme: Pengalaman Chile di Bawah Allende (1986)
  • Pembagian kerja secara seksual: sebuah pembahasan sosiologis tentang peran wanita di dalam masyarakat (1982)
  • Teori Pembangunan Dunia Ketiga (1995)

Pertanyaan Umum (FAQ)

Apa nama asli Arief Budiman?

Arief Budiman lahir dengan nama Soe Hok Djin.

Apa hubungan antara Arief Budiman dan Soe Hok Gie?

Arief Budiman adalah kakak kandung dari Soe Hok Gie, aktivis mahasiswa ternama yang meninggal di Gunung Semeru.

Mengapa Arief Budiman dikenal sebagai pencetus Golput?

Pada pemilu 1973, Arief dan rekan-rekannya memperkenalkan istilah Golongan Putih (Golput) sebagai bentuk protes dan tandingan terhadap dominasi politik partai pemerintah saat itu yang dianggap tidak demokratis.

Di mana saja Arief Budiman pernah mengajar?

Ia pernah menjadi dosen di Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga dan menjadi Guru Besar di Universitas Melbourne, Australia.

Sumber referensi: Wikipedia