Bahder Djohan

Tokoh pendidikan dan kedokteran Indonesia

Biografi Bahder Djohan: Sosok Dokter, Menteri, dan Pejuang Kemanusiaan
Biografi Bahder Djohan: Sosok Dokter, Menteri, dan Pejuang Kemanusiaan

Bahder Djohan (30 Juli 1902 – 8 Maret 1981) adalah seorang dokter, pendidik, dan negarawan Indonesia yang memberikan kontribusi besar pada masa-masa awal kemerdekaan Republik Indonesia. Ia dikenal luas karena peran ganda yang ia jalankan dengan apik, baik di dunia medis sebagai salah satu pendiri Palang Merah Indonesia (PMI) maupun di pemerintahan sebagai Menteri Pengajaran, Pendidikan, dan Kebudayaan pada dua kabinet berbeda.

Latar Belakang dan Masa Pendidikan

Bahder Djohan lahir di Padang, Sumatra Barat, sebagai anak kelima dari sepuluh bersaudara. Ayahnya, Mohamad Rapal yang bergelar Sutan Boerhanoedin, berasal dari Koto Gadang dan bekerja sebagai seorang jaksa, sementara ibunya, Lisah, berasal dari Alang Laweh. Karena tuntutan profesi ayahnya, Bahder harus berpindah-pindah sekolah selama masa kecilnya.

Ia memulai pendidikan di sekolah Melayu di Kampung Pondok, Padang, sebelum pindah ke Payakumbuh pada 1910. Tiga tahun kemudian, ia masuk ke sekolah 1e Klasse Inlandsche School di Bukittinggi. Di kota inilah ia bertemu dan menjalin persahabatan dengan Mohammad Hatta, sosok yang kelak menjadi Wakil Presiden pertama Indonesia. Persahabatan mereka bertahan sepanjang hayat, mulai dari masa sekolah hingga perjuangan kemerdekaan.

Hasratnya pada dunia kedokteran membawanya ke Batavia untuk belajar di STOVIA (School tot Opleiding van Indische Artsen) pada tahun 1919. Selama sekitar delapan tahun menempuh pendidikan di sana, ia tidak hanya belajar ilmu medis, tetapi juga mulai aktif dalam pergerakan nasional. Ia akhirnya lulus pada 12 November 1927 dengan gelar "Indisch Arts".

Aktivitas Pergerakan dan Kepanduan

Sebagai pemuda yang haus akan perubahan, Bahder Djohan aktif dalam organisasi pemuda Jong Sumatranen Bond. Keterlibatannya mencapai puncaknya saat ia turut serta dalam Kongres Pemuda I. Dalam forum tersebut, ia menyampaikan pidato visioner berjudul "Di Tangan Wanita", yang menyoroti pentingnya peran perempuan dalam masyarakat. Pidato ini dianggap berbahaya oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda hingga peredarannya dilarang.

Selain pergerakan politik, Bahder memiliki minat besar dalam dunia kepanduan. Pada September 1951, ia terlibat dalam pembentukan Ikatan Pandu Indonesia (Ipindo), sebuah badan federasi yang menyatukan berbagai organisasi pramuka di Indonesia. Dalam organisasi tersebut, Bahder Djohan dipercaya menjabat sebagai Presiden Kehormatan.

Baca Juga:

Peran dalam Kemanusiaan dan Pemerintahan

Salah satu warisan terpenting Bahder Djohan adalah keterlibatannya dalam pendirian Palang Merah Indonesia (PMI). Tepat satu bulan setelah proklamasi kemerdekaan, ia menjadi bagian dari panitia lima orang yang mempersiapkan pembentukan PMI pada 17 September 1945. Dalam kepanitiaan tersebut, ia bertugas sebagai penulis, bekerja sama dengan Dr. R. Mochtar (ketua) serta tokoh medis lainnya seperti Dr. Djoehana Wiradikarta, Dr. Marzuki, dan Dr. Sitanala.

Karier politiknya mencuat saat ia ditunjuk sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dalam dua periode kabinet, yaitu Kabinet Natsir (1950-1951) dan Kabinet Wilopo (1952-1953). Di luar pemerintahan, ia juga pernah memimpin RSUP Jakarta (kini dikenal sebagai RSCM) pada tahun 1953.

Integritas dan Masa Akhir Jabatan

Setelah masa jabatannya sebagai menteri berakhir, Bahder Djohan terpilih menjadi Rektor Universitas Indonesia (UI). Namun, masa jabatannya di UI berakhir lebih awal karena prinsip yang ia pegang teguh. Pada tahun 1958, ia memilih mengundurkan diri sebagai bentuk protes terhadap kebijakan pemerintah pusat dalam menangani peristiwa PRRI di Sumatra Barat. Bahder tidak setuju dengan penyelesaian konflik melalui jalur militer atau peperangan.

Hingga akhir hayatnya, Bahder Djohan terus dihormati sebagai tokoh yang memiliki integritas tinggi. Atas jasa-jasanya kepada negara, ia dianugerahi Bintang Jasa Pratama pada tahun 1980 dan Bintang Mahaputera Utama secara anumerta pada tahun 1995. Ia wafat pada 8 Maret 1981, meninggalkan warisan berupa pengabdian tanpa pamrih bagi dunia kesehatan dan pendidikan Indonesia.

Pertanyaan Umum (FAQ)

Apa jasa utama Bahder Djohan bagi dunia kesehatan Indonesia?

Bahder Djohan merupakan salah satu dari lima pendiri Palang Merah Indonesia (PMI) pada September 1945 dan pernah menjabat sebagai Direktur RSUP Jakarta (RSCM).

Mengapa Bahder Djohan mengundurkan diri sebagai Rektor UI?

Ia mengundurkan diri pada tahun 1958 karena tidak setuju dengan keputusan pemerintah yang memilih jalur peperangan dalam menyelesaikan konflik PRRI.

Apa jabatan menteri yang pernah diemban Bahder Djohan?

Ia menjabat sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dalam Kabinet Natsir (1950-1951) dan Kabinet Wilopo (1952-1953).

Sumber referensi: Wikipedia