Ben Mang Reng Say

Politisi dan Diplomat Indonesia (1928–2003)

Biografi Ben Mang Reng Say: Politisi Katolik dan Diplomat Ulung Indonesia
Biografi Ben Mang Reng Say: Politisi Katolik dan Diplomat Ulung Indonesia

Ben Mang Reng Say (15 Juni 1928 – 16 Agustus 2003) adalah seorang tokoh politik dan diplomat terkemuka Indonesia yang memiliki peran krusial dalam masa transisi politik nasional. Ia dikenal sebagai salah satu figur sentral dari Partai Katolik yang memberikan kontribusi besar, baik di ranah legislatif sebagai Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Gotong Royong (DPR-GR) maupun di dunia diplomatik dalam upaya penyelesaian isu-isu kedaulatan negara.

Masa Kecil dan Latar Belakang Pendidikan

Lahir di Bola, Nusa Tenggara Timur, Ben Mang Reng Say menghabiskan masa kecilnya dalam lingkungan pendidikan yang cukup disiplin. Setelah menyelesaikan sekolah rakyat di tanah kelahirannya (1934–1937), pamannya yang merupakan seorang Kapitan, Mo’an Petrus Pitang, mengirimnya ke Sekolah Schakel di Ndao-Ende. Keputusan ini menjadi titik balik bagi pendidikannya karena sekolah tersebut merupakan institusi bergengsi di NTT pada masa itu.

Sebelum terjun ke dunia politik dan akademis, Ben sempat meniti karier sebagai polisi. Ia bertugas di Maumere, Bajawa, hingga Makassar antara tahun 1943 hingga 1950. Namun, menyadari bahwa panggilan jiwanya bukan di kepolisian, ia memutuskan mengundurkan diri dan melanjutkan pendidikan MULO di Makassar. Kegigihannya membawanya ke Yogyakarta untuk menempuh studi di Fakultas Hukum, Sosial, dan Politik Universitas Gadjah Mada (UGM). Ia berhasil meraih gelar Drs pada 23 November 1956 dan mulai bekerja sebagai pegawai negeri sipil di Departemen Dalam Negeri.

Karier Politik dan Peran di Partai Katolik

Kiprah politik Ben Mang Reng Say dimulai secara formal melalui Partai Katolik. Pada Pemilihan Umum 1955, ia dipercaya menjabat sebagai Sekretaris Fraksi Partai Katolik di Konstituante (1956–1959), bekerja berdampingan dengan tokoh nasional I.J. Kasimo. Karier legislatifnya semakin menanjak ketika ia ditunjuk sebagai anggota DPR-GR pada akhir 1964.

Pasca peristiwa Gerakan 30 September, terjadi restrukturisasi besar-besaran dalam tubuh parlemen Indonesia. Dalam situasi ini, Ben mendapatkan kepercayaan untuk menduduki posisi Wakil Ketua DPR-GR periode 1966–1971. Ia juga tercatat dalam sejarah sebagai ketua terakhir Partai Katolik Indonesia (1971–1973) sebelum partai tersebut melakukan fusi ke dalam Partai Demokrasi Indonesia (PDI) pada Januari 1973.

Baca Juga:

Misi Diplomatik dan Isu Timor Leste

Sebagai diplomat, Ben Mang Reng Say terlibat dalam momen-momen bersejarah Indonesia. Bersama Frans Seda, ia memainkan peran penting dalam pertemuan Roma di bawah koordinasi Menteri Luar Negeri Adam Malik dan Jenderal Ali Moertopo. Pertemuan ini bertujuan untuk mendiskusikan integrasi damai Timor Leste ke wilayah Indonesia.

Saat menjabat sebagai Duta Besar Indonesia untuk Portugal (1975–1976), Ben berada di posisi yang sangat sulit terkait ketegangan di Timor Leste. Ia dikenal karena keberaniannya menyampaikan laporan jujur kepada Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Dalam laporannya, ia mengakui adanya korban jiwa dalam demonstrasi kemerdekaan di Timor Leste, sebuah tindakan yang mencoreng citra militer kala itu namun menunjukkan integritasnya sebagai pejabat publik. Setelah bertugas di Portugal, ia melanjutkan pengabdiannya sebagai Duta Besar Indonesia untuk Meksiko hingga tahun 1980.

Kontribusi di Bidang Pendidikan dan Pengabdian Terakhir

Selain di pemerintahan, Ben memiliki kepedulian yang sangat tinggi terhadap pendidikan tinggi Katolik di Indonesia. Ia merupakan salah satu tokoh pendiri Universitas Katolik Atma Jaya di Jakarta. Selain mengajar ilmu politik, ia juga dipercaya menjabat sebagai rektor universitas tersebut pada tahun 1962, meletakkan fondasi akademis bagi salah satu perguruan tinggi swasta terkemuka di Indonesia.

Hingga masa tuanya, Ben terus mengabdi melalui Dewan Pertimbangan Agung (DPA). Ia menjabat dua kali sebagai anggota DPA, termasuk menduduki posisi Wakil Ketua Bidang Urusan Politik pada periode 1988–1993. Atas jasa-jasanya yang luar biasa bagi negara, ia dianugerahi Bintang Mahaputera Adipradana oleh pemerintah Indonesia serta penghargaan internasional Aguila Azteca Primera Banda dari pemerintah Meksiko.

Ben Mang Reng Say menikah dengan Dona Maria Yosefa Nana Da Silva, putri dari Raja Don Thomas Da Silva di Maumere, dan dikaruniai lima orang anak. Sang diplomat dan politisi ini mengembuskan napas terakhir pada 16 Agustus 2003 dan dimakamkan dengan penghormatan negara di Taman Makam Pahlawan Nasional Utama Kalibata, Jakarta.

Pertanyaan Umum (FAQ)

Apa jabatan penting yang pernah dipegang Ben Mang Reng Say di parlemen?

Ben Mang Reng Say pernah menjabat sebagai Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Gotong Royong (DPR-GR) pada periode 1966–1971.

Bagaimana peran Ben Mang Reng Say dalam sejarah Timor Leste?

Ia terlibat dalam pertemuan Roma untuk diskusi integrasi damai Timor Leste dan pernah memberikan laporan berani kepada PBB terkait insiden kekerasan selama masa tugasnya sebagai Duta Besar di Portugal.

Apa kontribusi Ben Mang Reng Say dalam dunia pendidikan?

Ia merupakan salah satu pendiri Universitas Katolik Atma Jaya Jakarta dan pernah menjabat sebagai rektor universitas tersebut pada tahun 1962.

Sumber referensi: Wikipedia