Djohan Sjahroezah
Pejuang kemerdekaan dan politikus Indonesia

Djohan Sjahroezah (26 November 1912 – 2 Agustus 1968) adalah seorang pejuang kemerdekaan dan politikus ulung Indonesia yang memainkan peran krusial di balik layar sejarah revolusi. Ia dikenal luas sebagai Sekretaris Jenderal Partai Sosialis Indonesia (PSI) dan salah satu tokoh utama dalam gerakan bawah tanah saat masa pendudukan Jepang. Selain kiprah politiknya, Djohan juga merupakan salah satu pendiri kantor berita nasional Antara yang masih berdiri hingga saat ini.
Latar Belakang dan Pendidikan
Djohan lahir di Medan sebagai anak sulung dari tujuh bersaudara. Ayahnya, Tanzil Maroehoem Diatjeh, merupakan seorang pegawai negeri di Topografischen Dienst (Dinas Topografi) Hindia Belanda, sementara ibunya bernama Radena. Keluarga Djohan memiliki akar intelektual dan pergerakan yang kuat; ibunya adalah saudara kandung dari tokoh pers perempuan Roehana Koeddoes serta saudara tiri dari Sutan Sjahrir. Hubungan kekerabatan ini menempatkan Djohan sebagai keponakan langsung dari Sjahrir, yang kelak menjadi mitra politik terdekatnya.
Pendidikan dasar Djohan dimulai di Europeesche Lagere School (ELS) di Medan, berlanjut ke MULO di Bandung, dan AMS di Jakarta. Selain pendidikan formal, Djohan sangat aktif dalam lingkaran intelektual mandiri. Ia mengikuti berbagai kursus yang diselenggarakan oleh Golongan Merdeka di beberapa kota, yang mengasah pemikiran kritis dan ideologi nasionalisnya.
Awal Aktivisme dan Penjara Sukamiskin
Kiprah politik Djohan dimulai sejak masa muda melalui Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia (PPPI). Sebagai seorang aktivis, ia tajam dalam memberikan kritik melalui tulisan. Di majalah Indonesia Raya, ia menulis artikel yang mengecam keras kebijakan kerja sama (kooperasi) dengan pemerintah kolonial Belanda. Tulisan tersebut membuatnya dianggap berbahaya oleh pemerintah Hindia Belanda.
Djohan ditangkap dengan tuduhan menghasut massa untuk berbuat kekacauan. Setelah melalui proses pengadilan, ia dijatuhi hukuman 1,5 tahun penjara di Penjara Sukamiskin, Bandung. Pengalaman di penjara tidak menyurutkan semangatnya; selepas bebas, ia langsung bergabung kembali dengan rekan-rekan seperjuangannya yang tidak dibuang ke Digul untuk melanjutkan eksistensi PNI-Pendidikan.
Pendirian Kantor Berita Antara
Salah satu kontribusi terbesar Djohan bagi dunia pers Indonesia terjadi pada tahun 1937. Bersama dengan Adam Malik, Mr. Soemanang, dan Pandoe Kartawiguna, ia mendirikan Kantor Berita Antara (saat itu bernama KB Antara). Dalam struktur awal, Mr. Soemanang menjabat sebagai Direktur, sementara Adam Malik menjadi Redaktur merangkap Wakil Direktur.
Eksistensi Antara sangat vital bagi perjuangan nasionalisme karena menjadi saluran informasi yang menyuarakan aspirasi kemerdekaan Indonesia ke dunia luar dan masyarakat lokal di tengah ketatnya sensor kolonial. Pada tahun 1941, Djohan kembali berperan penting saat ia diutus bersama Adam Malik untuk membujuk Sugondo Djojopuspito agar bersedia memimpin kantor berita tersebut.
Baca Juga:
Pergerakan Bawah Tanah dan Karier Politik
Selama masa pendudukan Jepang, Djohan Sjahroezah memilih jalan perjuangan bawah tanah. Ia bergerak secara senyap untuk mengorganisir kekuatan rakyat dan buruh. Salah satu pencapaiannya adalah keberhasilannya mendirikan beberapa serikat buruh, terutama di sektor industri perminyakan yang sangat strategis.
Pasca kemerdekaan, Djohan bersama Sutan Sjahrir membentuk Partai Rakyat Sosialis (Paras) dan Partai Sosialis Indonesia (Parsi), yang kemudian melebur menjadi Partai Sosialis Indonesia (PSI). Di dalam partai, Djohan dipercaya menjabat sebagai Sekretaris Jenderal. Ia juga mewakili PSI di parlemen dan sempat menjadi anggota Badan Pekerja Komite Nasional Indonesia Pusat (BP-KNIP).
Ketika gaya kepemimpinan Soekarno mulai bergeser ke arah otoriterisme (Demokrasi Terpimpin), PSI di bawah kepemimpinan Djohan tetap menunjukkan sikap kritis. Meskipun PSI akhirnya dibubarkan pada tahun 1960 dan banyak pimpinannya dipenjarakan, pengaruh pemikiran Djohan tetap diperhitungkan. Djohan dikenal sebagai pemimpin yang sangat memahami situasi lapangan dan memiliki basis massa yang kuat di kalangan rakyat jelata.
Kehidupan Pribadi dan Akhir Hayat
Djohan Sjahroezah menikah dengan Violet Hanifah (Yoyet), putri dari pahlawan nasional Haji Agus Salim, pada tahun 1937. Pernikahan ini dianugerahi lima orang anak. Sebagai pribadi, Djohan dihormati baik oleh kawan maupun lawan karena kesabarannya dan kemampuannya merajut jejaring perjuangan di berbagai level masyarakat.
Djohan wafat pada 2 Agustus 1968, meninggalkan warisan berupa sejarah panjang perjuangan bawah tanah dan fondasi pers nasional Indonesia. Ia diingat bukan hanya sebagai keponakan Sutan Sjahrir, melainkan sebagai sosok mandiri yang berjuang demi kebebasan berorganisasi dan demokrasi di Indonesia.
Pertanyaan Umum (FAQ)
Apa peran Djohan Sjahroezah dalam sejarah pers Indonesia?
Djohan Sjahroezah merupakan salah satu dari empat pendiri utama Kantor Berita Antara pada tahun 1937 bersama Adam Malik, Mr. Soemanang, dan Pandoe Kartawiguna.
Apa hubungan antara Djohan Sjahroezah dengan Sutan Sjahrir?
Djohan Sjahroezah adalah keponakan kandung dari Sutan Sjahrir. Ibu Djohan, Radena, adalah saudara tiri seayah dengan Sjahrir.
Mengapa Djohan Sjahroezah pernah dipenjara di Sukamiskin?
Ia dipenjara selama 1,5 tahun karena menulis artikel di majalah Indonesia Raya yang mengecam kerja sama dengan Belanda dan dianggap menghasut kekacauan oleh pemerintah kolonial.
Apa jabatan politik utama Djohan Sjahroezah?
Ia menjabat sebagai Sekretaris Jenderal Partai Sosialis Indonesia (PSI), anggota parlemen, dan anggota Badan Pekerja KNIP.
Sumber referensi: Wikipedia