Fatmawati
Pahlawan Nasional Indonesia

Fatmawati (5 Februari 1923 – 14 Mei 1980) adalah Ibu Negara Indonesia pertama yang menjabat dari tahun 1945 hingga 1967. Dikenal luas sebagai sosok yang menjahit Bendera Pusaka Sang Saka Merah Putih, ia merupakan istri ketiga dari Presiden pertama Indonesia, Soekarno. Perannya tidak hanya sebatas pendamping kepala negara, tetapi juga simbol keteguhan prinsip perempuan Indonesia dalam masa transisi kemerdekaan.
Latar Belakang dan Masa Muda
Lahir dengan nama Fatimah di Bengkulu pada 5 Februari 1923, ia merupakan putri dari pasangan Hasan Din dan Siti Chadijah. Keluarga Fatmawati memiliki latar belakang yang terhormat; ayahnya merupakan tokoh Muhammadiyah di Bengkulu, dan ia memiliki garis keturunan dari Kesultanan Inderapura (Minangkabau). Pendidikan formalnya dimulai di Sekolah Rakyat pada tahun 1929, kemudian ia melanjutkan ke HIS Muhammadiyah Kebon Ros di Bengkulu (1930) dan HIS Muhammadiyah Palembang (1932).
Pertemuan dengan Soekarno dan Pernikahan
Pertemuan Fatmawati dengan Soekarno terjadi saat Sang Proklamator sedang dalam masa pengasingan di Bengkulu. Saat itu, Fatmawati masih remaja. Soekarno, yang saat itu masih terikat pernikahan dengan Inggit Garnasih, menyatakan keinginannya untuk memiliki keturunan demi meneruskan namanya. Setelah melalui proses yang panjang, Inggit akhirnya setuju untuk bercerai.
Fatmawati resmi menikah dengan Soekarno pada tahun 1943. Melalui pernikahan ini, mereka dikaruniai lima orang anak yang kelak juga berperan penting dalam panggung politik dan budaya Indonesia, yaitu:
- Guntur Soekarnoputra (lahir 3 November 1944)
- Megawati Soekarnoputri (lahir 23 Januari 1947), yang kemudian menjadi Presiden ke-5 Republik Indonesia.
- Rachmawati Soekarnoputri (27 September 1950 – 3 Juli 2021)
- Sukmawati Soekarnoputri (lahir 26 Oktober 1951)
- Guruh Soekarnoputra (lahir 13 Januari 1953)
Baca Juga:
Kisah Bersejarah Menjahit Bendera Pusaka
Momen paling ikonik dalam hidup Fatmawati terjadi menjelang Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945. Setahun setelah pernikahannya, Jepang menjanjikan kemerdekaan bagi Indonesia. Fatmawati berinisiatif menyediakan bendera Merah Putih untuk dikibarkan di kediaman mereka di Jalan Pegangsaan Timur 56.
Mendapatkan kain berkualitas pada masa itu sangat sulit karena semua barang impor dikendalikan oleh Jepang. Atas bantuan Shimizu, seorang perantara perundingan Jepang-Indonesia, Fatmawati akhirnya mendapatkan kain merah dan putih dari gudang di daerah Pintu Air. Dalam kondisi hamil tua anak pertamanya, Guntur, Fatmawati menjahit bendera tersebut secara bertahap menggunakan mesin jahit tangan merk Singer. Dokter melarangnya menggunakan kaki untuk menggerakkan mesin jahit demi keamanan janinnya. Seringkali ia menitikkan air mata penuh haru dan tekad saat menyelesaikan jahitan bendera yang kini dikenal sebagai Sang Saka Merah Putih.
Prinsip Hidup dan Keputusan Meninggalkan Istana
Sebagai Ibu Negara, Fatmawati dikenal memegang teguh prinsipnya, terutama mengenai penolakannya terhadap poligami. Ketika Soekarno meminta izin untuk menikahi Hartini pada 7 Juli 1953, Fatmawati memilih untuk menjaga martabat dan prinsipnya dengan meninggalkan Istana Negara. Meskipun tidak lagi tinggal di istana, ia tetap dihormati sebagai Ibu Negara pertama dan sosok ibu bagi bangsa.
Wafat dan Penghargaan
Fatmawati meninggal dunia pada 14 Mei 1980 di Kuala Lumpur, Malaysia, akibat serangan jantung. Saat itu, ia sedang dalam perjalanan pulang menuju Jakarta setelah menunaikan ibadah umrah di Makkah. Ia dimakamkan di Taman Pemakaman Umum (TPU) Karet Bivak, Jakarta Pusat.
Atas jasa-jasanya yang besar terhadap negara, pemerintah Indonesia menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada Fatmawati pada 4 November 2000 melalui keputusan Presiden Abdurrahman Wahid. Namanya kini diabadikan sebagai nama bandar udara di Bengkulu, rumah sakit besar di Jakarta Selatan (RSUP Fatmawati), serta stasiun MRT Jakarta.
Pertanyaan Umum (FAQ)
Apa jasa utama Fatmawati bagi Indonesia?
Jasa utamanya adalah menjahit Bendera Pusaka Sang Saka Merah Putih yang dikibarkan pada saat Proklamasi Kemerdekaan Indonesia tanggal 17 Agustus 1945.
Mengapa Fatmawati meninggalkan Istana Negara?
Fatmawati meninggalkan Istana Negara pada tahun 1953 karena ia memegang prinsip anti-polygami setelah Presiden Soekarno memutuskan untuk menikah lagi dengan Hartini.
Di mana Fatmawati dimakamkan?
Ia dimakamkan di Taman Pemakaman Umum (TPU) Karet Bivak, Jakarta Pusat, bukan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, sesuai dengan keinginannya sendiri.
Sumber referensi: Wikipedia