Soebandrio
Politikus Indonesia (1914–2004)

Soebandrio (15 September 1914 – 3 Juli 2004) adalah seorang tokoh politik dan diplomat terkemuka Indonesia yang memegang peran krusial di era pemerintahan Presiden Soekarno. Ia dikenal luas sebagai Menteri Luar Negeri serta Wakil Perdana Menteri Indonesia yang memiliki pengaruh besar dalam menentukan arah kebijakan luar negeri pada masa Demokrasi Terpimpin. Meskipun ejaan resmi "Subandrio" telah ditetapkan sejak 1947, nama beliau hingga kini sering kali tetap ditulis dengan ejaan lama.
Kehidupan Awal dan Masa Perjuangan
Lahir di Kepanjen, Malang, Soebandrio menempuh jalur pendidikan kedokteran di Geneeskundige Hoogeschool te Batavia (GHS), Jakarta. Selama masa studinya, ia tidak hanya fokus pada ilmu medis, tetapi juga aktif terlibat dalam gerakan kemerdekaan Indonesia. Semangat nasionalismenya terus berkobar hingga masa pendudukan Jepang, di mana ia tetap berpraktik sebagai dokter sembari bekerja bersama pasukan perlawanan anti-Jepang.
Kehidupan pribadi Soebandrio juga tidak jauh dari dunia politik dan kesehatan. Istrinya, Hurustiati Subandrio, adalah seorang dokter yang juga dikenal aktif secara politik. Setelah proklamasi kemerdekaan, karier birokratis Soebandrio dimulai saat ia diangkat menjadi Sekretaris Jenderal Kementerian Penerangan.
Karier Diplomatik dan Kedekatan dengan Soekarno
Loyalitas Soebandrio terhadap visi nasionalis Presiden Soekarno membawanya ke panggung diplomasi internasional. Pada tahun 1947, ia dikirim ke Eropa sebagai utusan khusus untuk mendirikan kantor informasi Indonesia di London. Pengalaman internasionalnya semakin matang saat ia dipercaya menjabat sebagai Duta Besar Indonesia untuk Uni Soviet pada periode 1954 hingga 1956.
Masa tugasnya di Moskow memberikan pengaruh signifikan terhadap pandangan politiknya yang menjadi condong ke sayap kiri, meskipun Soebandrio sendiri membantah tuduhan bahwa dirinya adalah seorang Komunis. Sekembalinya ke Jakarta pada tahun 1956, Soekarno mengangkatnya menjadi Sekretaris Jenderal Kementerian Luar Negeri, yang kemudian berlanjut menjadi Menteri Luar Negeri.
Baca Juga:
Arsitek Kebijakan Luar Negeri dan Konfrontasi
Di puncak kariernya, Soebandrio memegang jabatan berlapis: Wakil Perdana Menteri, Menteri Luar Negeri, Menteri Hubungan Ekonomi Luar Negeri, sekaligus kepala intelijen (BPI). Ia merupakan arsitek utama dari kebijakan luar negeri Indonesia yang agresif dan condong ke blok timur, termasuk aliansi strategis dengan Republik Rakyat Tiongkok.
Salah satu kebijakan yang paling kontroversial adalah "Konfrontasi" terhadap pembentukan federasi Malaysia. Kebijakan ini memicu ketegangan hebat antara Indonesia dengan negara-negara Barat, terutama Britania Raya dan Amerika Serikat. Salah satu insiden penting yang ia tangani adalah Krisis Selat Sunda tahun 1964, ketika kapal induk Inggris HMS Victorious melintasi perairan Indonesia tanpa izin resmi.
Kejatuhan Politik dan Masa Tahanan
Peristiwa Gerakan 30 September (G30S) pada tahun 1965 menjadi titik balik drastis bagi kehidupan Soebandrio. Di tengah gejolak anti-komunis, ia dicopot dari jabatannya pada tahun 1966 meskipun Presiden Soekarno sempat berusaha mempertahankannya. Soebandrio kemudian diadili oleh Mahkamah Militer Luar Biasa (Mahmilub) dan dijatuhi hukuman mati atas tuduhan keterlibatan dalam G30S.
Menariknya, hukuman mati tersebut tidak pernah dieksekusi. Atas intervensi dan permintaan dari pemerintah Britania Raya melalui Ratu Elizabeth II—mengingat jasanya sebagai duta besar pertama Indonesia di London—hukumannya diubah menjadi penjara seumur hidup. Soebandrio menghabiskan waktu selama 29 tahun di balik jeruji besi.
Pembebasan dan Akhir Hayat
Pada 2 Juni 1995, Soebandrio mendapatkan grasi dari Presiden Soeharto. Ia akhirnya dibebaskan secara resmi pada 15 Agustus 1995, tepat dua hari sebelum peringatan emas kemerdekaan Indonesia. Setelah jatuhnya rezim Orde Baru, Soebandrio berupaya memulihkan nama baiknya dan sempat bertemu dengan Presiden Abdurrahman Wahid pada tahun 2000, meski upaya rehabilitasi tersebut tidak pernah terwujud secara formal.
Di masa senjanya, ia menulis otobiografi berjudul "Kesaksianku" (2001) untuk memberikan perspektif pribadinya mengenai peristiwa sejarah yang ia alami. Soebandrio wafat di Jakarta pada 3 Juli 2004, meninggalkan jejak sejarah sebagai salah satu diplomat paling berpengaruh sekaligus kontroversial dalam sejarah politik Indonesia.
Pertanyaan Umum (FAQ)
Apa saja penghargaan internasional yang pernah diterima Soebandrio?
Soebandrio menerima beberapa tanda kehormatan dari negara asing, di antaranya Knight Grand Cross dari Thailand (1960), Order of the Star of the Romanian Socialist Republic 2nd Class (1962), Grand Cross of the Order of Merit dari Jerman (1963), dan Order of the Yugoslav Flag dari Yugoslavia.
Mengapa hukuman mati Soebandrio dibatalkan?
Hukuman mati Soebandrio dikurangi menjadi penjara seumur hidup setelah pemerintah Britania Raya, atas nama Ratu Elizabeth II, mengajukan permohonan keringanan hukuman karena menghargai peran Soebandrio sebagai duta besar pertama Indonesia untuk Inggris.
Apa posisi Soebandrio saat peristiwa G30S terjadi?
Saat peristiwa G30S meletus pada 30 September 1965, Soebandrio sedang berada di Sumatra dalam rangka menjalankan tugas dinas, sehingga tidak ada bukti nyata yang menunjukkan ia mengetahui atau merencanakan kudeta tersebut secara langsung.
Sumber referensi: Wikipedia