Sugondo Djojopuspito

Ketua Kongres Pemuda II & Tokoh Perintis Kemerdekaan

Biografi Sugondo Djojopuspito: Tokoh Kunci di Balik Sumpah Pemuda 1928
Biografi Sugondo Djojopuspito: Tokoh Kunci di Balik Sumpah Pemuda 1928

Sugondo Djojopuspito (22 Februari 1905 – 23 April 1978) adalah seorang tokoh pemuda dan pejuang kemerdekaan Indonesia yang memegang peran sentral sebagai Ketua Kongres Pemuda II pada tahun 1928. Kepemimpinannya dalam kongres tersebut menjadi tonggak sejarah yang sangat vital bagi bangsa Indonesia, karena dari sanalah lahir kesepakatan historis yang dikenal sebagai Sumpah Pemuda. Sosoknya dikenang bukan hanya karena kecakapannya dalam memimpin gerakan pemuda, tetapi juga karena dedikasinya yang tanpa pamrih dalam memperjuangkan kemerdekaan melalui jalur pendidikan dan politik.

Latar Belakang dan Masa Pendidikan

Lahir di Tuban, Jawa Timur, Sugondo adalah putra dari Kromosardjono, seorang Penghulu dan Mantri Juru Tulis Desa. Masa kecilnya diwarnai oleh keprihatinan setelah ibundanya meninggal dunia, yang kemudian diikuti oleh perpindahan ayahnya ke Brebes. Sugondo beserta adiknya, Soenarjati, kemudian dibesarkan oleh pamannya, Hadisewojo, seorang kolektor wilayah Blora yang membiayai seluruh pendidikannya.

Pendidikan dasar Sugondo dimulai di HIS Tuban (1911-1918), lalu berlanjut ke MULO di Surabaya (1919-1922). Selama di Surabaya, ia dititipkan di rumah tokoh besar H.O.S. Cokroaminoto, di mana ia tinggal bersama Soekarno. Pengalaman ini memberikan pengaruh besar pada pemikiran politiknya. Ia kemudian melanjutkan ke AMS afdeling B di Yogyakarta dan sempat mondok di rumah Ki Hadjar Dewantara di Lempuyangan. Pendidikan tingginya ditempuh di Rechtshoogeschool te Batavia (Sekolah Tinggi Hukum), meskipun ia hanya sempat menyelesaikan tingkat Candidat Satu (C1) karena beasiswanya dicabut akibat aktivitas politiknya serta wafatnya paman yang membiayainya.

Kepemimpinan dalam Kongres Pemuda II

Keterlibatan Sugondo dalam pergerakan nasional semakin menguat saat ia bergabung dengan Persatuan Pemuda Indonesia (PPI). Pada tahun 1928, ia terpilih menjadi Ketua Kongres Pemuda II atas persetujuan tokoh-tokoh besar seperti Mohammad Hatta dan Soekarno. Sugondo dianggap sebagai figur yang tepat karena ia bersikap independen dan tidak terikat pada sentimen kesukuan, sebuah syarat mutlak untuk menyatukan berbagai organisasi pemuda di masa itu.

Dalam kongres yang berlangsung pada 27-28 Oktober 1928 tersebut, Sugondo berhasil mengawal jalannya diskusi hingga tercetusnya Trilogi Sumpah Pemuda: Satu Nusa, Satu Bangsa, dan Satu Bahasa Indonesia. Salah satu momen krusial adalah ketika Mohammad Yamin menyodorkan secarik kertas berisi rumusan resolusi kepada Sugondo. Setelah membacanya, Sugondo membubuhkan paraf tanda setuju, yang kemudian diikuti oleh peserta lainnya. Ia juga menjadi orang yang memberi izin kepada W.R. Supratman untuk memperdengarkan lagu Indonesia Raya melalui gesekan biola, sebuah tindakan berani mengingat ketatnya pengawasan polisi Hindia Belanda saat itu.

Baca Juga:

Perjuangan di Masa Pergerakan dan Penjajahan

Pasca-Sumpah Pemuda, Sugondo aktif di bidang pendidikan. Bersama Mr. Sunario Sastrowardoyo, ia mendirikan Perguruan Rakyat pada Desember 1928. Ia juga pernah menjabat sebagai kepala sekolah di Taman Siswa Bandung atas permintaan Ki Hadjar Dewantara. Di ranah politik, ia memilih bergabung dengan Pendidikan Nasional Indonesia (PNI) pimpinan Sutan Syahrir. Aktivitasnya ini membuat ia sempat ditangkap oleh pemerintah kolonial pada 1934 dan terkena larangan mengajar (Onderwijs Verbod).

Selama periode sulit tersebut, Sugondo beralih profesi menjadi wartawan lepas untuk berbagai surat kabar seperti De Indische Courant dan De Bataviaasch Nieuwsblad. Ia bahkan sempat dipercaya memimpin Kantor Berita Antara pada tahun 1941 oleh Mr. Soemanang. Di masa pendudukan Jepang, ia bekerja sebagai pegawai di Shihabu (Kepenjaraan) atas bantuan rekannya, Mr. Notosoesanto.

Karier Pasca-Kemerdekaan dan Masa Pensiun

Setelah Indonesia merdeka, Sugondo aktif dalam Badan Pekerja Komite Nasional Indonesia Pusat (BP-KNIP). Pada masa Republik Indonesia Serikat (RIS), ia dipercaya menjabat sebagai Menteri Pembangunan Masyarakat dalam Kabinet Halim (1950). Meski memiliki potensi besar, Sugondo memilih untuk pensiun dini pada usia 46 tahun untuk lebih banyak menghabiskan waktu dengan membaca dan berkumpul bersama rekan-rekan seperjuangannya.

Sifatnya yang rendah hati terlihat ketika ia menolak tawaran jabatan yang diberikan oleh Presiden Soekarno pada tahun 1952. Hingga akhir hayatnya, ia tetap menjaga hubungan dekat dengan tokoh-tokoh seperti Sultan Hamengkubuwono IX dan Sutan Syahrir. Sugondo mengembuskan napas terakhir pada 23 April 1978 dan dimakamkan di Pemakaman Keluarga Besar Tamansiswa Taman Wijayabrata, Yogyakarta.

Penghargaan dan Warisan

Pemerintah Republik Indonesia mengakui jasa-jasanya dengan menganugerahkan Bintang Jasa Utama pada tahun 1978 dan Satya Lencana Perintis Kemerdekaan pada tahun 1992. Namanya juga diabadikan sebagai Wisma Soegondo Djodjopoespito di Cibubur, sebuah fasilitas milik Kemenpora yang digunakan untuk kegiatan kepemudaan dan olahraga. Meski hingga kini belum secara resmi ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional, namanya tetap harum sebagai pilar utama persatuan Indonesia.

Pertanyaan Umum (FAQ)

Apa peran utama Sugondo Djojopuspito dalam sejarah Indonesia?

Peran utamanya adalah sebagai Ketua Kongres Pemuda II pada tahun 1928 yang berhasil menyatukan organisasi pemuda dari berbagai latar belakang dan melahirkan ikrar Sumpah Pemuda.

Mengapa Sugondo dipilih menjadi ketua Kongres Pemuda II?

Ia dipilih karena posisinya yang independen dan tidak berbasis pada kepentingan kesukuan, sehingga dianggap mampu menjadi penengah yang adil di antara berbagai faksi pemuda saat itu.

Apa saja penghargaan yang telah diterima Sugondo Djojopuspito?

Ia menerima Tanda Kehormatan Bintang Jasa Utama (1978) dan Satya Lencana Perintis Kemerdekaan (1992) atas jasanya bagi bangsa.

Siapa istri Sugondo Djojopuspito?

Istrinya adalah Suwarsih Djojopuspito, seorang guru dan penulis novel kenamaan yang menulis dalam bahasa Sunda, Belanda, dan Indonesia.

Sumber referensi: Wikipedia