Athanasius

Uskup Aleksandria tahun 328–373 (296–373)

Biografi Athanasius Agung: Sang Pembela Tritunggal Melawan Arianisme
Biografi Athanasius Agung: Sang Pembela Tritunggal Melawan Arianisme

Athanasius (ca. 296 – 2 Mei 0373), yang juga dikenal sebagai Athanasius Agung atau Athanasius Sang Pengaku Iman, adalah Uskup Aleksandria yang menjadi salah satu tokoh paling berpengaruh dalam sejarah kekristenan abad ke-4. Selama 45 tahun masa jabatannya sebagai uskup, ia dikenal karena kegigihannya dalam mempertahankan doktrin Tritunggal melawan ajaran Arianisme. Perjuangannya yang tak kenal lelah membuatnya dijuluki "Athanasius Contra Mundum" atau Athanasius Melawan Dunia, karena ia sering kali berdiri sendirian melawan arus politik dan religius pada zamannya.

Latar Belakang dan Masa Muda

Athanasius lahir dalam sebuah keluarga Kristen di Aleksandria atau mungkin di dekat Damanhur, Delta Sungai Nil, antara tahun 293 hingga 298. Masa kecilnya dihabiskan di Aleksandria, yang kala itu merupakan pusat intelektual dan perdagangan terpenting di Kekaisaran Romawi. Meskipun bukan dari kalangan bangsawan, orang tuanya mampu memberikan pendidikan sekuler yang berkualitas tinggi. Athanasius fasih berbahasa Yunani dan diyakini juga menguasai bahasa Koptik, mengingat ia sering berkhotbah di wilayah pedalaman Mesir.

Sebuah kisah populer dari Rufinus menceritakan bagaimana bakat kepemimpinan Athanasius terlihat sejak kecil. Uskup Aleksander dari Aleksandria dikisahkan melihat Athanasius dan kawan-kawannya bermain meniru upacara pembaptisan di pantai. Terkesan dengan keseriusan dan ketepatan tata cara yang dilakukan Athanasius kecil, sang uskup kemudian membimbingnya untuk mempersiapkan diri menjadi anggota klerus. Athanasius kemudian menjadi diakon dan pembantu setia bagi Uskup Aleksander.

Konsili Nicea dan Pertentangan dengan Arianisme

Titik balik karier Athanasius terjadi pada tahun 325, saat ia yang masih berusia sekitar 27 tahun mendampingi Uskup Aleksander dalam Konsili Nicea I. Konsili ini diselenggarakan oleh Kaisar Konstantinus Agung untuk menyelesaikan perselisihan mengenai ajaran Arius, yang mengeklaim bahwa Yesus (Putra Allah) memiliki hakikat yang berbeda dan lebih rendah dari Allah Bapa.

Athanasius muncul sebagai penentang utama Arianisme. Ia bersikeras pada istilah homo-ousios (sehakikat) untuk menjelaskan hubungan antara Bapa dan Anak. Tiga tahun setelah konsili tersebut, Athanasius terpilih menggantikan mentornya sebagai Uskup Agung Aleksandria pada tahun 328. Namun, pengangkatannya ini tidak mengakhiri konflik. Sebaliknya, ia harus berhadapan dengan lawan-lawan politik dan religius yang kuat, termasuk Eusebius dari Nikomedia yang memiliki pengaruh besar di istana kekaisaran.

Baca Juga:

Masa Jabatan yang Diwarnai Pengasingan

Selama 45 tahun menjabat sebagai uskup, Athanasius menghabiskan sekitar 17 tahun dalam lima masa pengasingan yang berbeda atas perintah kaisar-kaisar Romawi. Ia tidak hanya bertikai dengan para pengikut Arius, tetapi juga dengan kaisar-kaisar seperti Konstantinus, Konstantius II, Yulianus sang Murtad, dan Valens. Lawan-lawannya sering kali menyebarkan rumor palsu untuk menjatuhkannya, termasuk tuduhan melakukan sihir hingga pembunuhan, namun Athanasius selalu berhasil mematahkan tuduhan tersebut.

Masa pengasingannya yang paling signifikan terjadi di Roma (340–346), di mana ia memperkuat hubungan antara Gereja Timur dan Barat. Meskipun hidup dalam ketidakpastian dan ancaman konstan, pengaruhnya justru semakin meluas melalui tulisan-tulisan teologisnya yang dikirimkan dari tempat persembunyian.

Kontribusi Teologis dan Kanon Alkitab

Karya-karya tulis Athanasius, seperti Contra Gentes (Melawan Orang-Orang Kafir) dan De Incarnatione (Perihal Inkarnasi), menekankan bahwa keselamatan manusia hanya mungkin terjadi jika Yesus Kristus adalah Allah yang sesungguhnya. Ia juga menjadi salah satu teolog pertama yang secara serius membahas status Roh Kudus melalui surat-suratnya kepada Serapion, yang kemudian menjadi dasar bagi rumusan Tritunggal pada Konsili Konstantinopel tahun 381.

Selain dalam bidang doktrin, Athanasius memiliki peran krusial dalam sejarah Alkitab. Pada tahun 367, melalui Surat Paskahnya yang ke-39, ia secara resmi mendaftarkan 27 kitab yang kita kenal sekarang sebagai Perjanjian Baru. Daftar inilah yang kemudian disahkan oleh Konsili Kartago pada tahun 397 dan tetap digunakan oleh umat Kristiani hingga hari ini.

Warisan dan Kematian

Athanasius wafat pada 2 Mei 373 di Aleksandria. Beberapa tahun setelah kematiannya, Gregorius dari Nazianzus menjulukinya sebagai "Saka Guru Gereja". Ia dihormati sebagai orang kudus oleh Gereja Katolik, Ortodoks, Anglikan, dan Lutheran. Sebagai salah satu dari empat Pujangga Gereja Timur yang agung, warisannya tetap hidup melalui keteguhannya pada prinsip ortodoksi dan dedikasinya pada pelayanan pastoral serta monastisisme.

Pertanyaan Umum (FAQ)

Mengapa Athanasius dijuluki "Athanasius Contra Mundum"?

Julukan ini berarti "Athanasius Melawan Dunia", yang merujuk pada keberaniannya mempertahankan ajaran Tritunggal dan keilahian Kristus meskipun ia harus berhadapan dengan tekanan besar dari para kaisar Romawi dan mayoritas pemimpin gereja yang saat itu mulai condong pada Arianisme.

Apa kontribusi terpenting Athanasius bagi Alkitab?

Athanasius adalah tokoh yang pertama kali secara definitif mendaftarkan 27 kitab yang membentuk kanon Perjanjian Baru dalam Surat Paskahnya tahun 367, yang kemudian menjadi standar Alkitab Kristen hingga sekarang.

Berapa kali Athanasius mengalami pengasingan?

Athanasius mengalami pengasingan sebanyak lima kali dengan total waktu sekitar 17 tahun selama 45 tahun masa jabatannya sebagai Uskup Aleksandria.

Sumber referensi: Wikipedia