Hamengkubuwana VIII

Sultan Yogyakarta

Biografi Hamengkubuwana VIII: Sultan Yogyakarta yang Modern dan Visioner
Biografi Hamengkubuwana VIII: Sultan Yogyakarta yang Modern dan Visioner

Hamengkubuwana VIII (3 Maret 1880 – 22 Oktober 1939) adalah Sultan Yogyakarta kedelapan yang memerintah dari tahun 1921 hingga 1939. Lahir dengan nama Gusti Raden Mas (GRM) Sujadi, ia merupakan putra kedua puluh tiga dari Hamengkubuwana VII dan permaisuri keduanya, Gusti Kangjeng Ratu Hemas. Masa pemerintahannya ditandai dengan kemajuan ekonomi kesultanan, fokus yang besar pada pendidikan modern, serta pemugaran besar-besaran terhadap fisik bangunan keraton.

Naik Takhta dan Identitas Baru

Hamengkubuwana VIII dinobatkan sebagai Sultan Yogyakarta pada 8 Februari 1921. Segera setelah naik takhta, ia menunjukkan visi untuk memperkuat identitas lokal Yogyakarta. Salah satu langkah pertamanya adalah mengajukan perubahan pada heraldika atau lambang Kesultanan pada tahun 1921. Sebelumnya, lambang keraton masih sangat dipengaruhi dan mengadopsi unsur-unsur dari Kerajaan Belanda. Ia berkeinginan menciptakan lambang yang mengangkat cita rasa lokal guna menumbuhkan identitas mandiri yang tidak lagi sekadar mengekor pada simbol-simbol kolonial.

Modernisasi Pendidikan dan Dukungan Sosial

Di bawah kepemimpinannya, Kesultanan Yogyakarta memiliki kondisi keuangan yang sangat baik. Dana tersebut dimanfaatkan secara maksimal untuk berbagai kegiatan sosial dan pendidikan. Hamengkubuwana VIII memiliki kesadaran tinggi akan pentingnya pendidikan Barat sebagai bekal bagi generasi muda bangsawan Yogyakarta. Ia mendirikan dan membiayai sekolah-sekolah di lingkungan kesultanan serta mengirimkan putra-putranya menempuh pendidikan hingga ke jenjang perguruan tinggi di Belanda.

Salah satu putranya yang paling menonjol adalah GRM Darajatun (kelak menjadi Hamengkubuwana IX), yang ia kirim untuk belajar di Universitas Leiden. Hal ini menunjukkan keterbukaan Hamengkubuwana VIII terhadap ilmu pengetahuan modern meski ia tetap menjunjung tinggi tradisi keraton.

Baca Juga:

Rehabilitasi Arsitektur Keraton

Aspek penting lain dari masa pemerintahan Hamengkubuwana VIII adalah proyek rehabilitasi fisik kompleks Keraton Yogyakarta. Banyak bangunan ikonik yang saat ini kita lihat merupakan hasil renovasi dan penguatan pada zamannya. Beberapa proyek arsitektur utamanya meliputi:

  • Bangsal Pagelaran: Bangunan yang terletak di bagian paling depan keraton, berbatasan dengan Alun-alun Utara.
  • Tratag Siti Hinggil: Area penting untuk upacara-upacara formal kesultanan.
  • Gerbang Danapratapa: Salah satu gerbang utama yang direhabilitasi untuk mempercantik akses keraton.
  • Masjid Gedhe Kauman: Pemugaran masjid raya kesultanan sebagai pusat kegiatan keagamaan.

Selain pembangunan fisik, ia juga dikenal sebagai pendukung awal gerakan pembaruan Islam. Sebagai bentuk loyalitas pada nilai-nilai Islam, ia mendukung perjuangan KH. Ahmad Dahlan dalam mendirikan dan mengembangkan organisasi Muhammadiyah di Yogyakarta.

Keluarga dan Garis Keturunan

Hamengkubuwana VIII memiliki kehidupan keluarga yang besar dengan delapan orang istri dan memiliki total empat puluh satu anak, yang terdiri dari dua puluh empat putra dan tujuh belas putri. Anak-anaknya banyak yang memegang posisi penting dalam struktur keraton maupun pemerintahan di kemudian hari.

Wafat dan Suksesi

Kematian Hamengkubuwana VIII terjadi secara mendadak pada 22 Oktober 1939. Saat itu, ia sedang dalam perjalanan pulang dari Jakarta (Batavia) menggunakan kereta api untuk menjemput putranya, GRM Darajatun, yang baru saja tiba dari Belanda. Ia jatuh sakit di tengah perjalanan, dengan catatan sejarah menyebutkan wilayah Wates atau Kroya sebagai tempat kondisinya memburuk. Ia kemudian dinyatakan meninggal dunia, baik di dalam kereta maupun setelah sempat dibawa ke rumah sakit Panti Rapih (saat itu bernama Onder de Bogen).

Sebelum wafatnya Sultan ini menandai suksesi penting bagi Yogyakarta. Sebelum meninggal, ia sempat menyerahkan keris Kangjeng Kyai Ageng Jakapiturun kepada GRM Darajatun. Penyerahan keris ini merupakan isyarat kuat bahwa Darajatun adalah putra mahkota yang dipilih untuk meneruskan takhta sebagai Hamengkubuwana IX.

Penghargaan Internasional

Sebagai seorang penguasa yang disegani di masa kolonial, Hamengkubuwana VIII menerima berbagai tanda kehormatan internasional dari berbagai negara, di antaranya:

  • Grand Cross of the Order of Orange-Nassau (Belanda, 1937)
  • Commander of the Order of the Netherlands Lion (Belanda, 1925)
  • Knight Commander of the Most Noble Order of Thailand (Thailand, 1929)
  • Grand Cross of the Royal Order of Cambodia (Kamboja)
  • Grand Officer of the Order of Leopold II of Belgium (Belgia)
  • Commander 1st Class of the Order of Vasa (Swedia)

Pertanyaan Umum (FAQ)

Siapa nama asli Hamengkubuwana VIII?

Nama asli beliau sebelum naik takhta adalah Gusti Raden Mas (GRM) Sujadi.

Apa kontribusi terbesar Hamengkubuwana VIII di bidang pendidikan?

Ia mengalokasikan dana kesultanan untuk sekolah-sekolah dan mengirim banyak putranya, termasuk calon penerusnya, untuk belajar di universitas-universitas di Belanda.

Bagaimana hubungan Hamengkubuwana VIII dengan Muhammadiyah?

Beliau merupakan salah satu tokoh tingkat atas di Yogyakarta yang mendukung KH. Ahmad Dahlan dalam pembentukan Muhammadiyah sebagai bentuk komitmennya terhadap Islam.

Sumber referensi: Wikipedia