Hamka
Ulama, Sastrawan, dan Pahlawan Nasional Indonesia (1908–1981)

H. Abdul Malik Karim Amrullah (17 Februari 1908 – 24 Juli 1981), yang lebih dikenal dengan nama pena Buya Hamka, adalah seorang ulama, filsuf, dan sastrawan besar yang telah ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional Indonesia. Sosoknya merupakan perpaduan unik antara pemikir Islam yang mendalam dan penulis kreatif yang piawai merangkai kata. Sepanjang hidupnya, Hamka melakoni berbagai peran penting, mulai dari wartawan, pengajar, politikus, hingga menjabat sebagai Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang pertama.
Masa Kecil dan Pengaruh Lingkungan Minangkabau
Lahir di Tanah Sirah, Nagari Sungai Batang, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, Hamka tumbuh di bawah bayang-bayang besar ayahnya, Abdul Karim Amrullah atau Haji Rasul, seorang tokoh pembaru Islam di Minangkabau. Meskipun dididik dalam lingkungan agama yang ketat, Hamka kecil dikenal sebagai anak yang nakal dan gemar bertualang. Ia lebih tertarik mendengarkan pantun-pantun indah dari neneknya dan menonton film bisu di bioskop daripada menghafal kitab-kitab klasik di sekolah Thawalib.
Titik balik dalam hidupnya terjadi saat orang tuanya bercerai ketika ia berusia 12 tahun. Guncangan emosional ini membuatnya sering bolos sekolah dan berkelana jauh hingga dijuluki "Si Bujang Jauh". Namun, di tengah kegalauan tersebut, ia menemukan pelarian dalam membaca. Ia menghabiskan waktu berjam-jam di perpustakaan milik gurunya, Zainuddin Labay El Yunusy, menyerap berbagai karya sastra mulai dari terbitan Balai Pustaka hingga terjemahan Arab.
Perantauan dan Pencarian Jati Diri
Hasrat untuk mencari ilmu dan pengalaman membawa Hamka merantau ke Jawa pada usia 16 tahun. Di Yogyakarta, ia bertemu dengan tokoh-tokoh besar seperti HOS Tjokroaminoto dan Ki Bagus Hadikusumo. Dari mereka, Hamka mengenal Islam bukan sekadar ritual, melainkan sebuah gerakan sosial dan politik yang dinamis. Pengalaman ini mengubah pandangannya secara drastis; ia mulai melihat Islam sebagai kekuatan untuk memajukan umat dari keterbelakangan.
Sekembalinya dari Jawa, Hamka sempat pergi ke Makkah untuk memperdalam bahasa Arab dan sejarah Islam secara otodidak. Pengalaman di tanah suci ini memberinya kematangan spiritual dan intelektual yang kelak menjadi fondasi kuat bagi dakwahnya di Tanah Air.
Baca Juga:
Karier Sastra dan Puncak Popularitas
Nama Hamka benar-benar melambung di kancah nasional melalui karya sastra. Saat bekerja sebagai wartawan dan memimpin majalah Pedoman Masyarakat di Medan, ia melahirkan novel-novel legendaris seperti Di Bawah Lindungan Ka'bah dan Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck. Melalui tulisan-tulisannya, Hamka mengkritik praktik adat yang kaku dan memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan dalam bingkai keislaman.
Selama masa revolusi fisik, ia tidak hanya berjuang dengan pena. Hamka turut bergerilya di Sumatera Barat bersama Barisan Pengawal Nagari dan Kota (BPNK) untuk menggalang persatuan rakyat melawan kembalinya penjajah Belanda. Kegigihannya ini membuktikan bahwa ia adalah seorang pejuang yang terjun langsung ke lapangan.
Ujian di Balik Jeruji Besi
Memasuki era Demokrasi Terpimpin, sikap politik Hamka yang anti-komunisme membuatnya berseberangan dengan Presiden Soekarno. Ia aktif di partai Masyumi dan secara vokal menentang pengaruh Lekra. Akibatnya, pada tahun 1964, Hamka ditangkap dengan tuduhan melakukan gerakan subversif. Di balik jeruji besi inilah, Hamka justru melahirkan karya terbesarnya, Tafsir Al-Azhar. Penjara tidak mematikan semangatnya; ia justru memanfaatkan waktu isolasi untuk merampungkan tafsir Al-Qur'an sebanyak 30 juz.
Ketua MUI Pertama dan Akhir Hayat
Setelah bebas pada tahun 1966, Hamka mencurahkan waktunya untuk berdakwah di Masjid Agung Al-Azhar dan melalui media massa. Pada tahun 1975, ia terpilih secara aklamasi sebagai Ketua MUI yang pertama. Namun, integritasnya kembali diuji. Pada Mei 1981, Hamka memilih mengundurkan diri dari jabatannya setelah menolak menarik fatwa MUI mengenai keharaman perayaan Natal bersama bagi umat Muslim, meskipun mendapat tekanan dari pemerintah.
Buya Hamka wafat pada 24 Juli 1981 dan dimakamkan di TPU Tanah Kusir, Jakarta. Ia meninggalkan warisan intelektual yang luar biasa, mulai dari karya sastra hingga tafsir agama, serta teladan tentang keteguhan prinsip di tengah tekanan kekuasaan.
Pertanyaan Umum (FAQ)
Apa karya paling fenomenal dari Buya Hamka?
Karya paling fenomenal Buya Hamka adalah Tafsir Al-Azhar yang ia selesaikan saat berada di dalam penjara, serta novel sastra klasik Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck dan Di Bawah Lindungan Ka'bah.
Mengapa Buya Hamka mundur dari jabatan Ketua MUI?
Hamka mengundurkan diri pada tahun 1981 karena menolak menarik fatwa MUI tentang larangan mengikuti perayaan Natal bersama bagi umat Islam, yang saat itu mendapat tekanan dari Menteri Agama.
Gelar apa saja yang pernah diterima oleh Buya Hamka?
Buya Hamka dianugerahi gelar Doktor Kehormatan (Honoris Causa) dari Universitas Al-Azhar (Mesir) dan Universitas Nasional Malaysia, serta dikukuhkan sebagai Guru Besar oleh Universitas Moestopo.
Sumber referensi: Wikipedia