Parameswara

Raja Sumatra dan pendiri Kesultanan Melaka

Biografi Parameswara: Raja Terakhir Singapura dan Pendiri Kesultanan Melaka
Biografi Parameswara: Raja Terakhir Singapura dan Pendiri Kesultanan Melaka

Parameswara (1344 – 1414), yang kemudian dikenal sebagai Sultan Muhammad Iskandar Syah, merupakan tokoh sejarah krusial yang menjabat sebagai raja terakhir Singapura sebelum mendirikan Kesultanan Melaka pada tahun 1402. Ia adalah pangeran dari garis keturunan Sriwijaya yang melarikan diri dari Palembang setelah invasi Majapahit. Kepemimpinannya menandai transisi penting di wilayah Selat Malaka, mengubah sebuah desa nelayan kecil menjadi pusat perdagangan global yang menyatukan berbagai budaya di Nusantara.

Asal-usul dan Arti Nama

Nama Parameswara berasal dari bahasa Sanskerta, di mana Parama berarti "paling berkuasa" dan Iswara berarti "raja". Dalam tradisi Hindu, Parameswara juga merupakan salah satu sebutan bagi Dewa Siwa. Catatan sejarah mengenai dirinya banyak bersumber dari kitab Sulalatus Salatin (Sejarah Melayu) dan Suma Oriental karya penulis Portugis, Tome Pires. Meskipun kedua sumber ini memiliki perbedaan detail mengenai kronologi, keduanya sepakat bahwa Parameswara adalah pangeran yang melarikan diri dari Sumatra menuju Semenanjung Melayu.

Berdasarkan silsilah dalam Sulalatus Salatin, Parameswara adalah putra dari Sri Maharaja. Ia merupakan keturunan dari Sang Nila Utama, pendiri Singapura kuno. Sebelum menetap di Melaka, ia memerintah Singapura dari tahun 1389 hingga 1398, di mana masa pemerintahannya berakhir akibat gejolak politik dan serangan militer dari kekuatan luar.

Kejatuhan Singapura dan Masa Pelarian

Pemerintahan Parameswara di Singapura berakhir secara tragis pada tahun 1398. Menurut legenda dalam Sejarah Melayu, jatuhnya Singapura dipicu oleh konflik internal yang melibatkan salah satu selir raja dan ayahnya, Sang Rajuna Tapa. Akibat dendam pribadi, Sang Rajuna Tapa berkhianat dengan mengundang pasukan Majapahit untuk menyerang kerajaan tersebut.

Majapahit mengirimkan armada besar yang terdiri dari ratusan kapal dan ribuan prajurit. Setelah pengepungan selama satu bulan yang mengakibatkan kelaparan hebat di dalam benteng, gerbang kota akhirnya dibuka oleh pengkhianat. Pembantaian besar-besaran terjadi, memaksa Parameswara dan para pengikutnya melarikan diri ke utara melintasi Semenanjung Melayu untuk mencari perlindungan dan lokasi pemukiman baru.

Pendirian Kesultanan Melaka

Setelah meninggalkan Singapura, Parameswara sempat mencoba membangun pemukiman di Muar dan Sungai Ujong, namun ia merasa lokasi tersebut tidak strategis. Ia terus bergerak ke utara hingga sampai di muara Sungai Melaka. Legenda populer menyebutkan bahwa saat sedang beristirahat di bawah pohon Malaka, ia melihat seekor kancil kecil yang berani menendang anjing pemburunya hingga jatuh ke sungai.

Terkesan oleh keberanian kancil tersebut, Parameswara menganggap tempat itu memiliki aura yang baik untuk mendirikan kerajaan. Ia menamakan pemukiman tersebut "Melaka", yang merujuk pada nama pohon tempat ia berteduh (Phyllanthus emblica). Melaka dengan cepat berkembang karena lokasinya yang sangat strategis, terlindungi dari badai dan berada di jalur perdagangan utama dunia.

Baca Juga:

Diplomasi dengan Dinasti Ming dan Kemajuan Melaka

Untuk melindungi kerajaan barunya dari ancaman Siam dan Majapahit, Parameswara menjalin hubungan diplomatik yang kuat dengan Dinasti Ming di Tiongkok. Pada tahun 1405, utusan Kaisar Yongle bernama Yin Ching mengunjungi Melaka. Hubungan ini diperkuat dengan kedatangan armada Laksamana Cheng Ho yang legendaris.

Parameswara secara pribadi mengunjungi Tiongkok pada tahun 1411 bersama keluarga dan 540 pengikutnya untuk memberikan penghormatan kepada Kaisar Yongle. Kaisar mengakui Parameswara sebagai penguasa sah Melaka dan memberikan tanda kehormatan berupa sutra serta payung kuning kerajaan. Dukungan Tiongkok ini memberikan stabilitas keamanan yang memungkinkan Melaka tumbuh pesat menjadi pelabuhan internasional yang ramai dikunjungi pedagang dari India, Jawa, Arab, dan Burma.

Masuk Islam dan Perubahan Nama

Pada awalnya, Melaka bukanlah sebuah kerajaan Islam. Namun, konstelasi politik dan budaya berubah ketika Parameswara menikah dengan Putri Ratna Kemala, putri dari Sultan Zainal Abidin I dari Samudera Pasai. Pada tahun 1406, Parameswara memeluk agama Islam dan mengubah namanya menjadi Sultan Muhammad Iskandar Syah.

Keputusan ini memiliki dampak jangka panjang yang masif. Melaka kemudian menjadi pusat penyebaran agama Islam di Nusantara. Bahasa Melayu yang digunakan di pengadilan dan pasar Melaka menjadi lingua franca di wilayah tersebut, yang menjadi fondasi bagi bahasa komunikasi yang kita gunakan di Nusantara saat ini.

Akhir Hayat dan Warisan

Parameswara wafat pada tahun 1414 dan digantikan oleh putranya, Megat Iskandar Syah. Warisan terbesarnya bukan hanya sebuah pelabuhan yang makmur, tetapi sebuah imperium budaya yang membentuk identitas bangsa Melayu. Pada puncak kejayaannya, Melaka menjadi tempat di mana 80 bahasa berbeda digunakan oleh para pedagang.

Keberhasilan Parameswara membangun Melaka juga melemahkan pengaruh Majapahit di Selat Malaka. Sebagai jantung kebudayaan Melayu Islam, Melaka menjadi model bagi kesultanan-kesultanan lain di Nusantara dan berperan penting dalam mencetak ulama-ulama besar, termasuk beberapa anggota Wali Songo yang tercatat pernah belajar di sana.

Pertanyaan Umum (FAQ)

Siapakah pendiri Kesultanan Melaka?

Pendiri Kesultanan Melaka adalah Parameswara, seorang pangeran dari Palembang yang melarikan diri dari Singapura setelah serangan Majapahit.

Mengapa Parameswara mengganti namanya menjadi Iskandar Syah?

Parameswara mengganti namanya menjadi Sultan Muhammad Iskandar Syah setelah memeluk agama Islam pada tahun 1406, menyusul pernikahannya dengan putri dari Samudera Pasai.

Apa arti nama Melaka menurut sejarah?

Nama Melaka diambil dari nama pohon Melaka (Phyllanthus emblica), tempat Parameswara berteduh ketika melihat keberanian seekor kancil melawan anjing pemburu.

Sumber referensi: Wikipedia