Soekiman Wirjosandjojo

Perdana Menteri Indonesia ke-6

Biografi Soekiman Wirjosandjojo: Perdana Menteri ke-6 dan Tokoh Masyumi
Biografi Soekiman Wirjosandjojo: Perdana Menteri ke-6 dan Tokoh Masyumi

Soekiman Wirjosandjojo (19 Juni 1898 – 23 Juli 1974) adalah seorang negarawan dan tokoh politik terkemuka Indonesia yang menjabat sebagai Perdana Menteri Indonesia ke-6. Memimpin di bawah Kabinet Sukiman-Suwirjo antara tahun 1951 hingga 1952, ia dikenal sebagai salah satu pendiri sekaligus Ketua Umum pertama Partai Masyumi. Selain karier politiknya yang gemilang, Soekiman adalah seorang dokter yang memiliki kepedulian sosial tinggi, sering memberikan pengobatan gratis bagi masyarakat tidak mampu di Yogyakarta.

Latar Belakang dan Pendidikan

Soekiman lahir di Sewu, Surakarta, sebagai anak bungsu dari empat bersaudara. Ayahnya, Wirjosandjojo, adalah seorang pedagang beras yang cukup sukses. Berkat koneksi bisnis ayahnya dengan seorang pensiunan tentara Belanda, Soekiman mendapatkan kesempatan mengenyam pendidikan di Europeesche Lagere School (ELS) di Boyolali, sebuah sekolah dasar yang pada masa itu umumnya hanya diperuntukkan bagi anak-anak Eropa dan bangsawan.

Setelah lulus dari ELS, ia melanjutkan studi ke School tot Opleiding van Inlandsche Artsen (STOVIA), sekolah kedokteran bergengsi di Batavia. Selama di STOVIA, semangat organisasinya mulai tumbuh melalui keterlibatannya di Jong Java. Setelah lulus pada tahun 1923, ia berangkat ke Belanda untuk memperdalam ilmu medis di Universitas Amsterdam dengan spesialisasi penyakit dalam.

Di Belanda, Soekiman tidak hanya fokus pada studi. Ia aktif dalam Indonesische Vereniging, yang kemudian di bawah kepemimpinannya berganti nama menjadi Perhimpunan Indonesia (PI). Ia juga mengubah nama majalah organisasi tersebut dari Hindia Poetra menjadi Indonesia Merdeka, sebuah langkah simbolis yang menunjukkan arah perjuangan kemerdekaan.

Karier Medis dan Aktivitas Politik Awal

Sekembalinya ke tanah air, Soekiman menetap di Yogyakarta dan memimpin Rumah Sakit PKU Muhammadiyah. Tak lama kemudian, ia membuka balai pengobatan pribadi di kawasan Bintaran. Sebagai dokter spesialis paru-paru, ia dikenal dermawan karena sering memberikan potongan harga atau membebaskan biaya bagi pasien miskin.

Dunia politik tetap menjadi panggilan jiwanya. Pada tahun 1927, ia bergabung dengan Partai Sarekat Islam (PSI). Bersama Soekarno, ia turut berperan dalam pembentukan Permufakatan Perhimpunan-perhimpunan Politik Kebangsaan Indonesia (PPPKI). Namun, dinamika internal menyebabkan Soekiman sempat keluar-masuk organisasi politik Islam karena perbedaan pandangan dengan tokoh-tokoh seperti H.O.S. Tjokroaminoto dan Agus Salim. Perselisihan ini memuncak pada pemecatannya dari PSII pada tahun 1933, yang kemudian mendorongnya mendirikan Partai Islam Indonesia (PII).

Baca Juga:

Masa Pendudukan Jepang dan Revolusi

Selama pendudukan Jepang, Soekiman terlibat dalam Pusat Tenaga Rakyat (PUTERA) dan terpilih sebagai anggota Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan (BPUPKI). Ia merupakan salah satu tokoh yang vokal dalam memperjuangkan aspirasi Islam dalam dasar negara, termasuk dukungannya terhadap Piagam Jakarta.

Pasca-proklamasi, Soekiman terpilih sebagai Ketua Umum pertama Partai Masyumi dalam Kongres Umat Islam di Yogyakarta pada November 1945. Selama masa revolusi fisik, ia sering kali menempatkan diri sebagai oposisi terhadap kabinet-kabinet yang dianggap terlalu berkompromi dengan Belanda, seperti kabinet Sutan Sjahrir dan Amir Sjarifuddin. Namun, ia tetap menunjukkan loyalitas pada negara dengan menjabat sebagai Menteri Dalam Negeri dalam Kabinet Hatta I dan turut serta dalam delegasi Konferensi Meja Bundar (KMB).

Masa Jabatan Perdana Menteri dan Kebijakan Strategis

Pada 27 April 1951, Soekiman dilantik sebagai Perdana Menteri. Meskipun masa jabatannya tergolong singkat (kurang dari satu tahun), Kabinet Soekiman-Suwirjo menorehkan beberapa kebijakan fundamental yang dampaknya dirasakan hingga saat ini. Beberapa di antaranya adalah:

  • Nasionalisasi Bank Indonesia: Mengubah De Javasche Bank menjadi Bank Indonesia sebagai bank sentral nasional.
  • Tunjangan Hari Raya (THR): Memulai sistem pemberian tunjangan bagi pegawai pemerintah menjelang hari raya, sebuah tradisi yang terus berlanjut di Indonesia.
  • Keamanan Dalam Negeri: Melakukan tindakan tegas berupa penangkapan ribuan orang yang diduga terlibat rencana kudeta, terutama dari kalangan Partai Komunis Indonesia (PKI).

Namun, kabinet ini akhirnya jatuh akibat kontroversi hubungan diplomatik. Skandal penandatanganan perjanjian bantuan militer dan ekonomi (Mutual Security Act/MSA) dengan Amerika Serikat oleh Menteri Luar Negeri Achmad Soebardjo dianggap melanggar prinsip politik luar negeri bebas aktif. Tekanan dari oposisi dan perpecahan internal di Masyumi memaksa Soekiman mengembalikan mandatnya pada April 1952.

Pensiun dan Akhir Hayat

Setelah melepaskan jabatan Perdana Menteri, Soekiman tetap aktif di Masyumi sebelum akhirnya memutuskan mundur dari panggung politik saat era Demokrasi Terpimpin dimulai dan pemberontakan PRRI pecah. Ia menghabiskan masa tuanya di Yogyakarta hingga wafat pada tanggal 23 Juli 1974. Soekiman Wirjosandjojo dikenang sebagai sosok diplomat yang pragmatis namun teguh pada prinsip-prinsip perjuangan umat Islam dan kedaulatan bangsa.

Pertanyaan Umum (FAQ)

Apa kontribusi terbesar Soekiman Wirjosandjojo bagi pekerja di Indonesia?

Soekiman adalah tokoh yang mempelopori pemberian Tunjangan Hari Raya (THR) bagi pegawai pemerintah (pamong praja) pada masa kabinetnya, yang kemudian menjadi standar kesejahteraan pekerja di Indonesia hingga sekarang.

Mengapa Kabinet Soekiman-Suwirjo mengundurkan diri?

Kabinet ini jatuh karena adanya skandal penandatanganan bantuan keamanan Mutual Security Act (MSA) dengan Amerika Serikat, yang dianggap melanggar prinsip politik luar negeri Indonesia yang bebas aktif.

Apa peran Soekiman dalam pembentukan Bank Indonesia?

Di bawah pemerintahan Soekiman, pemerintah melakukan nasionalisasi De Javasche Bank dan mengubahnya menjadi Bank Indonesia sebagai bank sentral milik negara.

Sumber referensi: Wikipedia