Try Sutrisno
Wakil Presiden Indonesia ke-6 (1993–1998)

Try Sutrisno (15 November 1935 – 2 Maret 2026) adalah seorang purnawirawan jenderal TNI Angkatan Darat yang menjabat sebagai Wakil Presiden Indonesia keenam dari tahun 1993 hingga 1998. Lahir di Surabaya pada masa Hindia Belanda, ia dikenal sebagai sosok militer yang santun namun tegas, serta memiliki kedekatan khusus dengan Presiden Soeharto yang menjadi faktor penting dalam melesatnya karier politik dan militer beliau di era Orde Baru.
Latar Belakang dan Masa Kecil
Try Sutrisno lahir di Surabaya, Jawa Timur, sebagai anak ketiga dari enam bersaudara pasangan Subandi dan Mardiyah. Masa kecilnya diwarnai oleh suasana perjuangan kemerdekaan. Pada usia 13 tahun, Try menunjukkan jiwa patriotisme yang tinggi dengan mencoba bergabung dalam Batalyon Poncowati untuk ikut melawan penjajah. Meski usianya masih terlalu muda untuk dianggap sebagai prajurit tempur, ia tetap dipekerjakan sebagai kurir.
Tugasnya kala itu cukup berisiko, yakni menyusup ke daerah-daerah yang diduduki tentara Belanda untuk mencari informasi intelijen serta mengambil pasokan obat-obatan bagi Angkatan Darat Indonesia. Setelah Belanda mengakui kemerdekaan Indonesia pada tahun 1949, ia kembali ke Surabaya untuk menyelesaikan pendidikan di SMA Bagian B pada tahun 1956.
Pendidikan Militer dan Karier Awal
Setelah lulus SMA, Try Sutrisno mendaftar ke Akademi Teknik Angkatan Darat (ATEKAD). Meski sempat gagal dalam pemeriksaan fisik, ketertarikan Mayor Jenderal GPH Djatikusumo terhadap potensinya membuat Try dipanggil kembali untuk menjalani tes psikologi di Bandung hingga akhirnya diterima. Di lembaga pendidikan inilah ia menjalin persahabatan akrab dengan Benny Moerdani.
Karier militernya dimulai dengan keterlibatan dalam berbagai operasi penting. Pada tahun 1957, ia terjun dalam Operasi 17 Agustus untuk menumpas pemberontakan PRRI. Setelah lulus dari ATEKAD pada 1959, ia juga terlibat dalam Operasi Trikora dan Operasi Dwikora. Titik balik besar dalam kariernya terjadi pada tahun 1974 ketika ia terpilih menjadi ajudan Presiden Soeharto. Kepercayaan yang diberikan Soeharto membuatnya menjadi sosok yang sangat diperhitungkan di lingkaran dalam kekuasaan.
Peristiwa Tanjung Priok dan Puncak Komando
Karier Try terus meroket hingga ia menjabat sebagai Panglima KODAM V/Jaya pada tahun 1982. Di masa kepemimpinannya inilah terjadi Peristiwa Tanjung Priok pada September 1984. Insiden berdarah ini bermula dari sengketa selebaran di sebuah masjid yang kemudian berujung pada kerusuhan massa. Try Sutrisno, bersama Panglima ABRI Benny Moerdani, mengambil langkah tegas mengerahkan pasukan untuk menghadapi perusuh yang menyerang fasilitas publik dan markas militer.
Baca Juga:
Setelah menjabat sebagai Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) pada 1986, Try Sutrisno mencapai puncak karier militernya dengan diangkat sebagai Panglima ABRI pada 1988 menggantikan L.B. Moerdani. Sebagai Panglima, ia menangani berbagai gejolak separatisme, termasuk di Aceh dan insiden di Timor Timur yang dikenal sebagai Peristiwa Dili atau Insiden Santa Cruz pada tahun 1991. Meskipun tindakannya memicu kritik internasional, Try tetap teguh membela kebijakan militer di hadapan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR).
Masa Wakil Kepresidenan
Pencalonan Try Sutrisno sebagai Wakil Presiden pada tahun 1993 tergolong unik karena ia dicalonkan oleh fraksi ABRI di MPR sebelum Presiden Soeharto mengumumkan pilihannya sendiri. Hal ini sempat memicu ketegangan di lingkaran kekuasaan, namun Soeharto akhirnya menerima pencalonan tersebut. Meski menjabat sebagai orang nomor dua di Indonesia, hubungan Try dengan Soeharto selama periode 1993–1998 dikabarkan tidak seharmonis sebelumnya.
Try sering kali tidak dilibatkan dalam proses krusial, seperti pembentukan kabinet atau delegasi tugas kepresidenan saat Soeharto sakit. Salah satu pemicu kerenggangan ini adalah pernyataan Try di media yang menyarankan agar anak pejabat tidak menggunakan nama besar ayah mereka dalam berbisnis. Jabatan Try berakhir pada Maret 1998, sesaat sebelum kejatuhan Orde Baru, dan ia digantikan oleh B.J. Habibie.
Kehidupan Pribadi dan Akhir Hayat
Try Sutrisno menikah dengan Tuti Sutiawati pada 5 Februari 1961. Pasangan ini dikaruniai tujuh orang anak, di antaranya Firman Santyabudi dan Kunto Arief Wibowo yang mengikuti jejak ayahnya di militer dan kepolisian. Salah satu menantunya adalah Ryamizard Ryacudu, mantan Menteri Pertahanan RI.
Di masa pensiun, Try tetap aktif dalam organisasi purnawirawan dan sempat menjabat sebagai Ketua Umum Pepabri (1998–2003). Ia meninggal dunia pada 2 Maret 2026 di RSPAD Gatot Soebroto, Jakarta, pada usia 90 tahun setelah menjalani perawatan intensif. Jenazahnya dimakamkan dengan upacara militer di Taman Makam Pahlawan Kalibata sebagai penghormatan atas pengabdian panjangnya kepada negara.
Pertanyaan Umum (FAQ)
Kapan Try Sutrisno menjabat sebagai Wakil Presiden Indonesia?
Try Sutrisno menjabat sebagai Wakil Presiden Indonesia keenam pada periode 1993 hingga 1998, menggantikan Sudharmono.
Apa saja jabatan militer tertinggi yang pernah dipegang Try Sutrisno?
Jabatan militer tertinggi yang pernah diemban beliau adalah Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) periode 1986–1988 dan Panglima Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI) periode 1988–1993.
Siapa saja anak-anak Try Sutrisno yang dikenal publik?
Beberapa putra beliau yang dikenal publik di antaranya adalah Firman Santyabudi (Purnawirawan Polri) dan Kunto Arief Wibowo (Perwira Tinggi TNI AD). Beliau juga merupakan mertua dari mantan Menhan Ryamizard Ryacudu.
Di mana Try Sutrisno dimakamkan?
Try Sutrisno dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Nasional Utama (TMPNU) Kalibata, Jakarta Selatan.
Sumber referensi: Wikipedia