Abi Kusno Nachran

Jurnalis dan Politikus Kalimantan Tengah (1941–2006)

Abi Kusno Nachran (30 Maret 1941 – 24 Juli 2006), yang akrab disapa Bang Ono, adalah seorang jurnalis investigasi kawakan dan politikus asal Kalimantan Tengah. Ia dikenal luas karena keberaniannya dalam menyuarakan isu-isu lingkungan, khususnya terkait aktivitas penebangan dan perdagangan kayu ilegal yang merusak hutan di tanah kelahirannya. Komitmennya terhadap kelestarian alam membawanya hingga ke kursi Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI sebelum masa pengabdiannya berakhir karena kecelakaan tragis.

Latar Belakang dan Pendidikan

Lahir di Pangkalan Bun, Kabupaten Kotawaringin Barat, pada 30 Maret 1941, Abi Kusno menghabiskan masa mudanya di Kalimantan Tengah. Ia memulai perjalanan pendidikannya di Sekolah Rakyat (SR) Negeri Pangkalan Bun dan lulus pada tahun 1954. Ia kemudian melanjutkan pendidikan guru di PGA Negeri 4 tahun (1956–1960) dan PGA Negeri 6 tahun (1960–1962). Meski memiliki latar belakang pendidikan keguruan, ia justru menemukan panggilannya di dunia jurnalistik dan aktivisme sosial.

Karier Jurnalistik dan Investigasi Hutan

Sebelum terjun ke dunia politik praktis, Abi Kusno adalah jurnalis yang produktif. Ia tercatat pernah bekerja untuk berbagai media terkemuka, termasuk Banjarmasin Post, Media Indonesia, Lintas Khatulistiwa, serta majalah Spionase. Fokus utamanya adalah investigasi pembalakan liar (illegal logging) yang marak terjadi di Kalimantan.

Metode kerjanya dikenal sangat berisiko; ia sering keluar-masuk hutan belantara dan menyisir perairan untuk memverifikasi laporan masyarakat mengenai praktik penyelundupan kayu. Salah satu pencapaian besarnya adalah saat ia berhasil menggagalkan tiga kapal asal Tiongkok yang tengah mengangkut kayu ilegal dari hutan Kalimantan.

Baca Juga:

Risiko Profesi dan Tragedi Penyerangan

Keberanian Abi Kusno harus dibayar mahal. Pada 28 November 2001, ia menjadi korban penyerangan brutal menggunakan mandau. Akibat serangan tersebut, ia menderita 17 luka tusukan sedalam 4 cm dan kehilangan empat jari di tangan kirinya. Ia harus menjalani perawatan intensif selama tiga bulan, termasuk operasi pemulihan di Jerman.

Berdasarkan keterangan Abi Kusno dan berbagai laporan media pada masa itu, serangan tersebut diduga didalangi oleh pihak-pihak yang kepentingannya terganggu oleh laporannya. Ia menyebut nama Abdul Rasyid, anggota MPR dari Fraksi Partai Golkar saat itu, serta keponakannya, Sugianto Sabran, sebagai otak di balik aksi kekerasan tersebut.

Kiprah di Politik dan Akhir Hayat

Dukungan publik yang besar membawanya terpilih sebagai anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI dari Kalimantan Tengah pada Pemilihan Umum 2004. Ia meraih suara terbanyak ketiga di provinsinya, yang menjadi bukti kepercayaan masyarakat atas integritasnya.

Namun, perjuangannya terhenti secara mendadak pada 24 Juli 2006. Abi Kusno mengalami kecelakaan mobil di Jalan Tol Palimanan-Kanci (Cirebon) saat dalam perjalanan menuju Tegal, Jawa Tengah. Meskipun istri dan sopirnya selamat, Abi Kusno mengembuskan napas terakhir. Sebelum kecelakaan tersebut, ia dilaporkan sempat menerima ancaman kematian berupa kotak berisi kain kafan bertuliskan “Jangan Bunuh Mata Pencaharian Kami” saat meninjau lokasi timbunan kayu ilegal di Muara Bulan bersama rombongan DPD.

Jenazahnya dimakamkan di Semarang, kota tempat tinggal anak semata wayangnya. Abi Kusno Nachran dikenang sebagai sosok jurnalis yang tidak kenal takut dalam menjaga kekayaan alam Indonesia.

Pertanyaan Umum (FAQ)

Siapa sebenarnya Abi Kusno Nachran?

Ia adalah seorang jurnalis investigasi dan politikus asal Kalimantan Tengah yang dikenal karena perjuangannya melawan praktik penebangan hutan ilegal.

Apa dampak dari aktivitas jurnalistiknya bagi pribadinya?

Abi Kusno pernah mengalami penyerangan fisik yang mengakibatkan 17 luka tusukan dan hilangnya empat jari tangan kiri sebagai risiko atas investigasi pembalakan liar yang ia lakukan.

Kapan Abi Kusno Nachran menjabat sebagai anggota DPD RI?

Ia terpilih sebagai anggota DPD RI mewakili Kalimantan Tengah pada Pemilu 2004 dan menjabat hingga akhir hayatnya pada tahun 2006.

Sumber referensi: Wikipedia