Bachtiar Djafar
Politikus dan Perwira Militer Indonesia

Bachtiar Djafar (27 Juli 1939 – 3 Agustus 2021) adalah seorang tokoh militer dan birokrat terkemuka yang pernah menjabat sebagai Wali Kota Medan selama dua periode, dari tahun 1990 hingga 2000. Nama beliau mencatatkan sejarah penting bagi masyarakat Sumatra Utara, khususnya sebagai putra asli Suku Melayu pertama yang berhasil menduduki kursi kepemimpinan tertinggi di ibu kota provinsi tersebut.
Latar Belakang dan Pendidikan
Haji Bachtiar Djafar menghabiskan masa kecil dan remajanya di Medan. Ia memulai pendidikan dasarnya di SD Labuhan Deli Medan dan lulus pada tahun 1953. Pendidikan menengahnya dilanjutkan di SMP Negeri 1 Medan (lulus 1956) dan SMA Negeri 2 Medan (lulus 1959). Kota Medan bukan hanya tempat ia tumbuh besar, tetapi juga menjadi wilayah yang kelak ia pimpin selama satu dekade.
Setelah menyelesaikan sekolah menengah, Bachtiar memilih jalur militer sebagai pengabdiannya. Ia menempuh pendidikan di Akademi Militer Nasional (AMN) di Bandung dan lulus pada tahun 1962. Guna memperdalam ilmu kemiliteran, ia juga mengikuti pendidikan di Sesko-BRI Bagian Darat pada tahun 1978 serta Sesko-ABRI Bagian Gabungan di Bandung pada tahun 1982.
Karier Militer
Sebelum terjun ke dunia birokrasi dan politik, Bachtiar Djafar memiliki rekam jejak yang solid di jajaran Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (TNI-AD). Salah satu jabatan strategis yang pernah diembannya adalah sebagai Asisten Logistik (Aslog) Kopassus pada periode 1980 hingga 1983. Pengalaman mengelola logistik di pasukan khusus ini menunjukkan kepercayaan besar yang diberikan institusi kepadanya.
Kariernya terus menanjak saat ia dipindahkan ke Jawa Barat untuk menjabat sebagai Aslog Kodam VI Siliwangi (sekarang Kodam III/Siliwangi) pada tahun 1983 hingga 1986. Pengalaman kepemimpinan di lapangan dan manajerial militer ini menjadi modal kuat baginya saat dipercaya mengelola administrasi publik di kemudian hari.
Baca Juga:
Masa Jabatan sebagai Wali Kota Medan
Bachtiar Djafar resmi menjabat sebagai Wali Kota Medan pada 1 April 1990. Selama dua masa jabatan (1990–1995 dan 1995–2000), ia dikenal sebagai sosok yang fokus pada penataan kota. Sebagai kader Partai Golkar, kepemimpinannya mencerminkan stabilitas politik era Orde Baru yang berlanjut hingga masa awal reformasi.
Kehadirannya sebagai Wali Kota memberikan makna simbolis bagi masyarakat lokal, mengingat ia adalah sosok pertama dari etnis Melayu yang memimpin Medan sejak jabatan tersebut ada. Selama masa kepemimpinannya, ia didampingi oleh sang istri, Rosmeini Bachtiar, dan dikaruniai dua orang anak.
Aktivitas Politik dan Organisasi
Setelah menyelesaikan tugasnya sebagai Wali Kota pada tahun 2000, pengabdian Bachtiar Djafar tidak berhenti. Ia melanjutkan karier politiknya dengan menjadi anggota DPRD, di mana ia terus memberikan kontribusi dalam pengawasan kebijakan publik dan pembangunan daerah. Di struktur partai, ia dipercaya sebagai Dewan Penasehat Golkar Medan.
Selain aktif di politik praktis, Bachtiar juga sangat peduli pada pelestarian budaya dan identitas daerah. Hal ini dibuktikannya dengan peran aktif sebagai Dewan Penasehat Majelis Adat Budaya Melayu Indonesia (MABMI) Medan. Keterlibatannya dalam organisasi ini mempertegas komitmennya dalam menjaga akar budaya Melayu di tengah modernitas Kota Medan.
Pertanyaan Umum (FAQ)
Kapan Bachtiar Djafar menjabat sebagai Wali Kota Medan?
Haji Bachtiar Djafar menjabat sebagai Wali Kota Medan selama dua periode, mulai dari 1 April 1990 hingga tahun 2000.
Apa prestasi bersejarah Bachtiar Djafar dalam kepemimpinan daerah?
Ia tercatat sebagai orang pertama dari Suku Melayu yang berhasil menjabat sebagai Wali Kota Medan.
Apa latar belakang militer Bachtiar Djafar?
Beliau adalah lulusan Akademi Militer Nasional tahun 1962 dan pernah menjabat sebagai Aslog Kopassus serta Aslog Kodam VI Siliwangi.
Apa partai politik tempat Bachtiar Djafar bernaung?
Bachtiar Djafar adalah kader Partai Golkar dan pernah menjabat sebagai Dewan Penasehat Golkar di Medan.
Sumber referensi: Wikipedia