Ratu Shima

Maharani Kerajaan Kalingga

Ratu Shima (611–695 M) adalah penguasa legendaris dari Kerajaan Kalingga yang terletak di pesisir utara Jawa Tengah. Ia dikenal sebagai salah satu pemimpin perempuan paling berpengaruh dalam sejarah Nusantara karena ketegasannya dalam menegakkan hukum, kejujuran yang luar biasa, serta kemampuannya membawa kerajaan menuju masa keemasan. Sebagai seorang pemeluk Hindu Siwa yang taat, Ratu Shima memimpin dengan prinsip keadilan yang tidak pandang bulu, bahkan terhadap keluarganya sendiri.

Latar Belakang dan Keluarga

Lahir pada tahun 611 M di wilayah Keling, Jepara, Ratu Shima merupakan putri dari Hyang Syailendra, cucu dari Santanu. Ia menikah dengan Pangeran Kartikeyasingha, putra dari Raja Kirathasingha (632–648 M). Dari pernikahan tersebut, mereka dikaruniai dua orang anak, yaitu Dewi Parwati dan Narayana (juga dikenal sebagai Iswara). Keluarga kerajaan ini memiliki jaringan kekerabatan yang luas, termasuk hubungan darah dengan Kerajaan Melayu Sribuja di Palembang.

Awalnya, Ratu Shima adalah permaisuri saat suaminya memerintah di Kalingga Selatan (wilayah Kediri). Namun, setelah Raja Kartikeyasingha wafat, ia memegang kendali penuh pemerintahan. Ratu Shima kemudian memindahkan pusat kekuasaan ke Kalinggapura yang terletak di dekat Gunung Muria, Jawa Tengah. Saat naik takhta, ia menyandang gelar resmi Sri Maharani Mahissasuramardini Satyaputikeswara.

Kepemimpinan dan Penegakan Hukum yang Tegas

Masa pemerintahan Ratu Shima dicatat sebagai era di mana pencurian dan kejahatan hampir tidak ditemukan di wilayah Kalingga. Hal ini dikarenakan Sang Ratu menerapkan hukum yang sangat keras untuk mendorong rakyatnya agar senantiasa jujur. Pamor keadilan Ratu Shima bahkan terdengar hingga ke mancanegara.

Salah satu legenda yang paling terkenal menceritakan tentang seorang pemimpin dari Arab yang ingin menguji kabar mengenai kejujuran rakyat Kalingga. Ia meletakkan sebuah kantung berisi emas di persimpangan jalan dekat alun-alun ibu kota. Selama tiga tahun, tidak ada satu pun warga yang berani menyentuh kantung tersebut. Namun, suatu hari, putra mahkota secara tidak sengaja menyentuh kantung itu dengan kakinya. Mendengar hal tersebut, Ratu Shima awalnya menjatuhkan hukuman mati kepada putranya sendiri. Setelah para menteri memohon pengampunan, hukuman tersebut diubah menjadi hukuman potong kaki sebagai konsekuensi karena kaki sang pangeran telah menyentuh barang yang bukan miliknya.

Baca Juga:

Kemajuan Ekonomi dan Harmoni Agama

Di bawah kepemimpinan Ratu Shima, Kerajaan Kalingga mencapai puncak kemakmuran. Dalam bidang pertanian, ia merancang sistem pengairan yang efisien yang disebut Subak, sebuah teknik yang diadopsi dari kerajaan kerabatnya. Sistem ini melahirkan masyarakat kelas Tanibhala, yaitu kelompok masyarakat yang mengandalkan mata pencaharian melalui bercocok tanam secara terorganisir.

Selain kemajuan ekonomi, kehidupan beragama pun berkembang dengan harmonis. Meskipun Ratu Shima adalah penganut Hindu, agama Buddha juga berkembang pesat di wilayahnya. Kondisi ini membuat wilayah kekuasaannya sering dijuluki sebagai "Di Hyang" atau tempat bersatunya dua kepercayaan, yang mencerminkan toleransi tingkat tinggi pada masa itu.

Hubungan Diplomatik dan Dinamika Regional

Kalingga di bawah Ratu Shima menghadapi tantangan geopolitik yang cukup kompleks, terutama dengan bangkitnya Kerajaan Sriwijaya. Ketegangan sempat memuncak ketika Sriwijaya menaklukkan Kerajaan Melayu pada tahun 683 M, yang merupakan kerabat dari Kalingga. Ratu Shima yang merasa sakit hati sempat menyiapkan pasukan besar untuk menghadapi Sriwijaya.

Konflik terbuka berhasil diredam berkat mediasi dari Sri Maharaja Tarusbawa dari Kerajaan Sunda. Melalui diplomasi yang dikenal sebagai Mitra Pasamayan (perjanjian untuk tidak saling menyerang), stabilitas di Jawa dapat terjaga. Keamanan Kalingga juga semakin terjamin karena keturunan Ratu Shima banyak yang menduduki takhta di Kerajaan Sunda dan Galuh melalui jalur pernikahan.

Akhir Hayat dan Pembagian Kerajaan

Ratu Shima mangkat pada tahun 695 M. Sebelum wafat, ia membagi Kerajaan Kalingga menjadi dua bagian untuk kedua anaknya demi menghindari perebutan kekuasaan:

  • Bumi Sambara (Keling Utara): Dipimpin oleh Dewi Parwati (695–716 M) bersama suaminya, Rahyang Mandiminyak.
  • Bumi Mataram (Keling Selatan): Dipimpin oleh Narayana yang bergelar Iswarakesawa Lingga Jagatnata Buwanatala (695–742 M).

Garis keturunan Ratu Shima nantinya akan terus berlanjut melalui cucunya, Dewi Sannaha, yang memiliki putra bernama Sanjaya (Rakai Mataram). Sanjaya inilah yang kemudian menjadi pendiri Kerajaan Mataram Kuno dan menurunkan raja-raja besar di Jawa Tengah pada masa mendatang.

Pertanyaan Umum (FAQ)

Apa hukuman yang diberikan Ratu Shima kepada putranya?

Ratu Shima menjatuhkan hukuman potong kaki kepada putranya setelah sang pangeran secara tidak sengaja menyentuh kantung emas milik orang lain dengan kakinya. Awalnya ia hendak dihukum mati, namun diringankan atas permohonan para menteri.

Siapa suami dari Ratu Shima?

Suami Ratu Shima adalah Raja Kartikeyasingha, penguasa Kalingga yang memerintah di wilayah Kediri sebelum pusat kerajaan dipindahkan ke Jepara.

Kapan Ratu Shima meninggal dunia?

Ratu Shima wafat pada tahun 695 M, tiga tahun setelah kematian Raja Sriwijaya, Sri Jayanasa.

Apa nama sistem pengairan yang dirancang Ratu Shima?

Ratu Shima merancang sistem pengairan pertanian yang diberi nama Subak untuk meningkatkan hasil bercocok tanam rakyatnya.

Sumber referensi: Wikipedia